Waspadai Pujian Orang, Ini Bahayanya – Catatan Pemred
Lautan Hikmah

Waspadai Pujian Orang, Ini Bahayanya

bahaya pujian

ilustrasi pujian

sumber foto: google image

SEGALA puji hanya kepada Allah Ta’ala. Pembahasan ini menyangkut pujian kepada sesama makhluk. Sesungguhnya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya melarang manusia untuk saling memuji secara berlebihan. Karena pujian berlebihan itu tercela. Sesungguhnya yang pantas dipuji dengan benar hanyalah Allah Ta’ala.

Larangan pujian kepada manusia terterah dalam hadits Rasulullah saw yang ditulis oleh Imam Al-Bukhari, yang tidak diragukan lagi keshahihannya selama lebih dari seribu tahun sampai sekarang. haditsnya sebagai berikut;

Abdurrahman bin Abu Bakrah berkata’Seorang laki-laki memuji laki-laki lain di sisi Nabi saw.’ Beliau saw lantas bersabda; “Celakalah engkau, engkau telah memenggal leher temanmu, engkau telah memengal leher temanmu.” Beliau mengucapkannya berulang kali. “Apabila salah seorang di antara kalian terpaksa harus memuji temannya, hendaklah ia berkata, “Aku mengira si fulan demikian dan demikian, tetapi Allah yang Maha Mengetahui keadaannya. Aku tidak mensucikan seseorang di sisi Allah, aku mengira bahwa si fulan—jika dia mengetahuinya—itu begini dan begini.” (HR. Muslim, 7501).

Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, dari Nabi saw, bahwasanya ada seorang laki-laki yang disebutkan keadaannya di di hadapan Rasulullah saw, lalu seorang laki-laki lain berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang setelah Rasulullah saw yang lebih utama daripada dirinya dalam hal begini dan begini.” Nabi saw bersabda, “Celakalah kamu, kamu telah memengal leher temanmu.” Beliau mengucapkannya berulang-ulang. Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian terpaksa harus memuji temannya maka hendaklah ia berkata, ‘Saya mengetahui si fulan.’ Jika memang si fulan terlihat memiliki sifat demikian.’ Dan aku tidak menyucikan seorang pun di sisi Allah.” (HR. Muslim, No. 7502).

Dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, ia berkata, “Seorang laki-laki berdiri sambil memuji salah seorang gubernur. Lalu Al-Miqdad menaburkan tanah kepada laki-laki tersebut seraya berkata, “Rasulullah saw memerintahkan kita untuk menaburkan tanah ke muka orang-orang yang gemar memuji.” (HR. Muslim, No. 7505).

Dari Haman bin Al-Harits, bahwa seorang laki-laki memuji Utsman (bin Affan), lalu Al-Miqdad mendekati laki-laki tersebut kemudian berlutut—karena dia seorang bertubuh besar—lalu Al-Miqdad menaburkan pasir ke wajah laki-laki itu. Utsman bertanya, “Apa urusanmu?” Al-Miqdad berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar memuji, taburkanlah debu di wajah mereka.” (HR. Muslim, 7506).

Click to comment
To Top