Waktu dan Kondisi Ideal untuk Bercinta Menurut Ulama – Catatan Pemred
Kesehatan

Waktu dan Kondisi Ideal untuk Bercinta Menurut Ulama

SEGALA puji hanya kepada Allah. Sungguh, tiada agama yang sempurna kecuali Islam. Allah swt selalu memperhatikan perkara hubungan intim. Sehingga ada beberapa ayat yang diturunkan dari langit ke tujuh untuk menjelaskan kepada manusia tentang berhubungan badan.

Kali ini, kita akan membahas tentang waktu ideal dalam melakukan senggama. Soal perkara yang satu ini, masing-masing pasangan mungkin memiliki waktu tersendiri berhubungan intim. Dan dirasakan ideal. Karena disesuaikan dengan ritme kerja, dan atau urusan lainnya.

Namun tidak ada salahnya menyimak pendapat ulama salaf, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Ulama yang hidup pada abad 13 ini memaparkan secara singkat tentang kondisi dan waktu-waktu terbaik melakukan hubungan suami istri.

Hal ini tidaklah tabu dalam Islam untuk dibahas. Karena ummat ini sangat memperhatikannya dengan teliti, sampai pada posisi gaya bercinta pun dibahas, dan ayat Al-Quran turun tentangnya.

Menurut Ibnu Qayyim Rahimahullah, waktu berhubungan badan yang paling bermanfaat adalah malam hari yang dilakukan setelah proses pencernaan. Ketika tubuh dalam kondisi ideal, yaitu antara panas dan dingin (suhu badan stabil), kering dan lembab, kosong dan penuh.[1]

Kata sang Imam, bahaya yang timbul dari berhubungan badan yang dilakukam ketika tubuh kita masih kenyang lebih kecil daripada bahayanya ketika tubuh kita kosong sama sekali. Bahaya berhubungan badan dengan kondisi tubuh terlalu lembab lebih ringan daripada ketika terlalu kering. dan ketika panas lebih kecil daripada ketika dingin.[2]

Kata Ibnu Qayyim, berhubungan badan hendaknya dilakukan ketika mencapai puncak syahwat. tercapainya penyebaran syahwat secara penuh, menyeluruh, dan bukan karena dipaksakan dan memikirkan gambar atau bayangan tertentu, dan bukan pula pandangan yang terus menerus.

Tidak sepantasnya kita membebankan nafsu seksual pada perempuan dan menyalahkannya. Hendaknya kita segera melakukan hubungan badan ketika tubuh kita telah bergejolak karena banyaknya sperma yang terkumpul, dan nafsu mencapai puncaknya.

Ibnu Qayyim menyarankan, agar tidak melakukan hubungan badan dalam keadaan lapar, karena akan melemahkan panas pembawaan. Tidak pula dalam keadaan kenyang, karena hal ini akan menumbulkan penyakit yang berbahaya. Pun, tidak dalam keadaan lelah, setelah dari kamar mandi dan setelah muntah. Tidak juga saat kejiwaan sedang teranggu seperti gelisah, susah, dan sangat bahagia.

Kemudian, berhati-hatilah jangan sampai melakukan gerakan atau olahraga apapun setelahnya, karena hal ini akan sangat membahayakan.

Demikian, dan segala puji hanya kepada Allah Ta’ala.

———-

[1] Kitab Zadul Maad, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, jilid 4. Hal. 291 dan 303.

[2] Kitab Zadul Maad, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, jilid 4. Hal. 291.

Click to comment
To Top