Wahai Istriku, Apakah Engkau Lebih Baik dari Fatimah? – Catatan Pemred
My Story

Wahai Istriku, Apakah Engkau Lebih Baik dari Fatimah?

love
sumber foto: google image

SEGALA puji hanya kepada Allah yang menjadikan siang dan malam silih berganti. Segala puji hanya kepada-Nya yang menjadikan lapang dan sempit, susah dan senang berputar bak roda pedati.

Kami adalah keluarga kecil yang hidup kontrak di Jakarta. Entah kapan miliki rumah sendiri, tidak peduli. Toh di dunia ini, kita juga hanya kontrak, kehidupan abadi adalah akhirat.

Suatu ketika, kami dalam keadaan sempit, sedangkan banyak tamu yang datang, dan kami juga memiliki tanggungan, hingga tak ada sesuatu di rumah yang bisa dihidangkan. Sedangkan hari itu, istriku tercinta capek atau lelah karena banyak bekerja. Hingga akhirnya ia mengeluh, entah kepadaku atau kepada siapa.

Tapi saya tidak memarahinya. Saya katakan kepadanya, “wahai istriku, apakah engkau lebih baik atau lebih mulia dari Fatimah binti Rasulullah?”

Dia langsung terdiam, dan tidak lagi mengeluh. Saya kembali melanjutkan, “Bukankah engkau telah membaca, bahwa Fatimah bekerja dengan kedua tangannya hingga jari-jemarinya melepuh? Dan ia tidak memiliki pembantu. Sedangkan ia tidak mengeluh. Bukankah engkau juga telah membaca bahwa Aisyah dan para istri Rasulullah tidak pernah makan sampai kenyang, mereka hanya minum air, pada hari-hari menjelang wafatnya Rasulullah? Maka apakah engkau lebih baik dari mereka?”

Istriku menjawab, ‘Tidak”. Saya melanjutkan, “Jika memang demikian, maka jangan engkau mengeluh. Karena sesungguhnya Allah menjadikan lapang dan sempit silih berganti. Di saat kita lapang, kita harus banyak bersyukur, dan di saat sempit kita harus bersabar.”

Saudaraku, itu adalah kisah pribadiku. Semoga Allah menjauhkan kita dari riya. Istri adalah teman hidup, orang yang paling mengetahui tentang suaminya, begitu juga sebaliknya. Maka jangan sia-siakan istrimu, meski mereka banyak memiliki kekurangan baik secara tabiat, maupun agama. Rasulullah saw bersabda:

“Bersikaplah yang baik terhadap wanita karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk tadi, maka dia akan patah. Namun, jika kamu membiarkannya, ia akan selalu bengkok, maka bersikaplah yang baik terhadap wanita.” (HR. Bukhari no. 5184)

Jika engkau membiarkan istri mengikuti tabiatnya, maka ia akan terus bengkok. Dan jika anda memaksa meluruskan maka ia akan patah.

Bersikap kepada istri, jangan dengan paksaan, karena akan membuat istri frustasi dan menjadikannya tambah hancur, sebagaimana hadits di atas, bahwa yang terjadi adalah tulang rusuk itu akan patah. Hal ini juga berlaku untuk anak perempuan dan saudara-saudara perempuan.

Ketika kita menemukan mereka dalam keadaan bengkok, maka nasehatilah dengan nasehat yang baik. Berilah mereka wejangan dan perbandingan-perbandingan, karena sesungguhnya mereka juga memiliki akal dan nurani, yang bisa menerima kebaikan.

Dan aku memuji Allah atas istri yang diberikan kepadaku, yang terbiasa mendengar nasehat. Segala puji hanya kepada-Mu ya Ilahi. (*)

Click to comment
To Top