Takutlah Pada Hari Ditampakkannya Kesalahan-Kesalahan – Catatan Pemred
Lautan Hikmah

Takutlah Pada Hari Ditampakkannya Kesalahan-Kesalahan

ALLAH Ta’ala, Rabb yang Maha Perkasa, Bijaksana, Raja Yang Menguasai Hari Akhir, berfirman:

“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (al-Quran) yang telah kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakkan amal shaleh niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taghaabun, 64: 8-9).

Pada hari kiamat, semua manusia, jin, termasuk hewan-hewan, dari awal hingga akhir, dikumpulkan di suatu tempat. Kemudian dihisab. Di antara hewan-hewan yang saling menzalimi, akan membalas antara satu dengan yang lainnya, kemudian mereka dikembalikan menjadi tanah.[1]

Allah Maha Adil. Timbangan akan diletakkan dengan keadilan-Nya, tidak sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang hatinya condong pada kemaksiatan.

Pada hari itu, semua akan tersingkap. Kecuali yang ditutupi oleh Allah swt. Manusia diliputi ketakutan yang sangat. Kegelisahan yang memuncak. Namun tidak ada tempat berlarian dan bernaung. Hanya ada satu naungan, yaitu naungan Allah Pemilik Hari Pembalasan.

Firman-Nya: “Itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan.” Ibnu Abbas ra berkata, (At-Taghaabun) adalah salah satu nama hari Kiamat. Dikatakan demikian karena ‘algabnu’ itu bermakna, lalai, tipuan, dan perbedaan. Pada saat itu penghuni surga melalaikan, membiarkan, dan tidak peduli terhadap penghuni neraka yang telah tertipu oleh syaitan dan kekufurannya. Di samping itu, perbedaan nasib antara dua kelompok di saat itu sangat nampak.”[2]

Demikian pula pendapat Qatadah dan Mujahid. Muqatil bin Hayyan berkata, “Ketidakpedulian terbesar adalah ketika sebagian manusia masuk surga dan sebagian lagi dimasukkan neraka.”[3]

Inilah hari di mana hilangnya kekuasaan. Hari di mana tidak ada lagi pengawal-pengawal pribadi dan mobil-mobil mewah. Hari di mana seorang anak tidak dapat menolong ayahnya, dan sebaliknya. Dan segala puji hanya kepada Allah. (*)

[1] Hal ini termaktub dalam kitab-kitab tafsir para ulama, seperti Tafsir Al-Qurthubi, Ibnu Katsir.

[2] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), QS. At-Taghaabun, 64: 7-10). Jilid 9, hal. 138.

[3] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), QS. At-Taghaabun, 64: 7-10). Jilid 9, hal. 138.

Click to comment
To Top