Sifat Manusia yang Diungkap Al-Quran – Catatan Pemred
Lautan Hikmah

Sifat Manusia yang Diungkap Al-Quran

 

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji hanya kepada Allah, Rabb semesta alam. Dialah Rabb yang telah menciptakan segalanya. Dialah Rabb yang menciptakan orang-orang kafir itu, dan memberikan rezeki kepada mereka. Tapi mereka mengingkari-Nya. Dialah Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia berfirman:

“(Rabb) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman, 55: 1-4).

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad tercinta dan keluraganya serta sahabatnya yang mulia.

Al-Quran penuh dengan hikmah. Kalimat-kalimatnya diliputi keagungan. Allah Ta’ala memberitahukan kepada kita tentang sifat dan akhlak manusia atas kekufuran dan ambisi mereka terhadap kebathilan. Sumpah-Nya dengan Kuda Perang mengandung makna luar biasa. Sumpah-Nya dengan kuda yang adalah hewan yang berlari di jalan-Nya, supaya manusia berfikir. Maka ambillah pelajaran, karena sesungguhnya kita berakal. Dia Yang Maha Penyayang berfirman:

“Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya). Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi. Maka ia menerbangkan debu. Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterimakasih kepada Rabb-nya. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur. Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada. Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.” (QS. Al-Adiyaat, 100: 1-11).

Perhatikanlah, Allah Yang Maha Penyayang bersumpah dengan kuda perang. Objek sumpah-Nya adalah keingkaran manusia kepada-Nya, dan manusia tidak tahu berterimakasih kepada Rabb-nya. Mereka adalah orang-orang kafir dan munafikin. Mereka adalah orang-orang yang sangat cinta terhadap harta. Mereka adalah orang-orang yang sangat ambisi terhadap dunia sehingga ingkar dan lupa kepada-Nya. Merekalah yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Maka siapakah yang lebih sesat daripada mereka. Merekalah orang-orang yang paling merugi.

Imam Ibnu Katsir berkata, Allah swt bersumpah dengan kuda, apabila kuda tersebut berlari di jalan-Nya, hingga tersengal-sengal dan terengah-engah.[1]

Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya).” Yakni benturan tapal kakinya dengan bebatuan hingga mengeluarkan api. “Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi.” Yakni serangan mendadak di waktu shubuh seperti yang Rasulullah saw lakukan. Akan tetapi sebelumnya beliau menyimak adzan, jika beliau mendengar adzan (maka serangan dibatalkan). Dan jika tidak mendengarnya, maka beliau melakukan serangan.[2]

“Maka ia menerbangkan debu.” Yakni debu yang beterbangan di medan pertempuran. “Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.” Yakni seluruh kuda perang tersebut berkumpul mengambil posisi di tengah-tengah medan perang tersebut.[3]

Ada tiga objek sumpah Allah Ta’ala dengan kuda perang dalam surat ini. Yaitu:

  1. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterimakasih kepada Rabb-nya.
  2. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya.
  3. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.

Allah swt meneruskan firman-Nya, dengan memberitahukan tentang apa yang akan terjadi di hari Kemudian, yaitu hari kebangkitan dan hari di mana semua akan tersingkap. Termasuk apa yang ada di dalam dada. Dia berfirman: Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur. Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada. Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.”

Imam Ibnu Katsir berkata, Allah swt berfirman memerintahkan agar zuhud terhadap dunia dan mengutamakan kehidupan akhirat. Allah swt mengingatkan apa yang akan terjadi sesudah keadaan di dunia ini, dan terhadap kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi oleh manusia di hari Kemudian.[4]

Demikianlah dan segala puji hanya kepada Allah yang telah mengajarkan hamba-Nya yang bodoh ini baca tulis dengan perantara qalam. Sesungguhnya Dia berfirman:

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?.” (QS. Al-Insan, 76: 1). Maka mengapa kamu congkak dan berpaling dari kebenaran? (*)

—————————–

[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri), QS. Al-Adiyat, 100: 1-11. Jilid 9, Hal. 685.

[2] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri), QS. Al-Adiyat, 100: 1-11. Jilid 9, Hal. 685.

[3] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri), QS. Al-Adiyat, 100: 1-11. Jilid 9, Hal. 685.

[4] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri), QS. Al-Adiyat, 100: 1-11. Jilid 9, Hal. 687.

Click to comment
To Top