Setan Dibelenggu Pada Bulan Ramadhan, Begini Penjelasannya – Catatan Pemred
Puasa

Setan Dibelenggu Pada Bulan Ramadhan, Begini Penjelasannya

laknat

Alhamdulillahirabbil’alamin. Imam Muslim Rahimahullah, meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallahu’alaihiwassalam bersabda; “Apabila datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR Muslim, No. 2492).

Rasulullah Shallahu’alaihiwassalam bersabda: “Apabila datang Ramadhan, maka pintu-pintu rahmat dibuka, pintu-pintu jahannam ditutup, dan setan-setan dirantai.” (HR Muslim, No. 2493).

Sabda Rasulullah Shallahualaihiwassalam: “Maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” Al-Qadhi Iyadh Rahimahullah, mengungkapkan, bahwa maksud hadits ini dapat dipahami secara zhahir dan hakikatnya (bukan majas). Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu adalah tanda masuknya bulan Ramadhan dan betapa mulia bulan itu. Para setan dibelenggu supaya tidak bisa menganggu dan menyakiti kaum mukmin.[1]

Al-Qadhi mengatakan, “Hal itu juga dipahami sebagai bentuk majas, yakni sebagai isyarat banyaknya pahala dan pengampunan dosa di dalamnya, dan bahwasanya godaan, gangguan, serta bisikan setan menjadi sedikit layaknya orang-orang yang terbelenggu.” Para setan diikat untuk tidak melakukan sesuatu tanpa menggunakan apapun, dan diikat untuk tidak mengganggu manusia tanpa menggunakan manusia. Hal ini diperkuat dengan riwayat selanjutnya yang menerangkan bahwa pintu-pintu rahmat dibukakan, dan ada juga hadits lain yang menyebutkan, “Setan-setan jahat dibelenggu.”[2]

Al-Qadhi melanjutkan, dibukanya pintu-pintu surga juga bisa dipahami bahwa hal itu merupakan ungkapan tentang amal ibadah yang dibukakan oleh Allah Ta’ala untuk para hamba-Nya di dalam bulan ini, dan tidak terjadi pada bulan-bulan selainnya secara umum, seperti puasa, shalat tarawih, amalan kebaikan, berhenti melakukan kemaksiatan dan segala kesalahan. Ini semua merupakan amal perbuatan yang dapat mengantarkan seorang masuk ke dalam surga melalui pintu-pintu yang sudah disediakan. Demikian pula ditutupnya pintu-pintu neraka dan dibelenggunya para setan, merupakan ungkapan dari ditahannya perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari syariat.[3] Demikianlah, segala puji dan keagungan hanya milik Allah. (*)

——————-

[1] Syarah Sahih Muslim, Imam An-Nawawi, Pembahasan Puasa. Jilid 5, Hal 495.

[2] Syarah Sahih Muslim, Imam An-Nawawi, Pembahasan Puasa. Jilid 5, Hal 495.

[3] Syarah Sahih Muslim, Imam An-Nawawi, Pembahasan Puasa. Jilid 5, Hal 495.

Click to comment
To Top