Saat Dimakamkan, Kuburan Gubernur Ini Ada Ular, Hingga Digali 30 Kali – Catatan Pemred
Kisah

Saat Dimakamkan, Kuburan Gubernur Ini Ada Ular, Hingga Digali 30 Kali

ular
sumber foto: google images

JIKA seseorang terus melakukan beragam dosa di muka bumi, tanpa memohon ampun kepada Allah swt, dan bertobat nashuhah, maka bisa jadi siksaan itu ditampakkan begitu nyata, hingga tak terhalang ketika orang-orang melihatnya.

Maka tersebarlah cerita itu hingga diriwayatkan ke anak cucu, dan menjadi buah bibir sepanjang masa. Maka mintalah perlindungan kepada Allah, dan mohon ampunlah segera.

Hal ini sebagaimana terdapat dalam sebuah kisah yang mengerikan. Imam Al-Qurthubi (ulama tafsir Quran), berkata: “Aku dikabari oleh sahabatku yang bernama Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qashari Rahimahullah, ia berkata:

“Ada seorang gubernur Konstantinopel yang meninggal dunia, lalu digalilah sebuah kubur untuknya. Manakalah mereka telah selesai menggali kuburannya, mayat tersebut dimasukkan ke dalam kubur.

Tiba-tiba ada seekor ular hitam yang bersarang di dalam kubur, tempat di mana mereka akan menguburkannya.

Kemudian orang-orang pun membuat galian lagi sekitar 30 lubang, dan setiap kali mereka hendak menguburkan mayat tersebut ke dalam lubang itu, selalu saja ada seekor ular hitam.

Saat mereka sudah merasa putus asa, mereka saling bertanya, ‘Apa yang harus kita lakukan?’ Lalu ada yang menyatakan, ‘Kuburkan saja mayat itu bersama ular hitam tadi.’ Dan mereka pun melaksanakannya.

Demikian kisah ini yang termuat dalam Kitab Kisah Orang-orang Zhalim, Hamid Ahmad Ath-Thahir (hal. 549, Darus Sunnah).

Kita memohon kepada Allah keselamatan dan perlindungan di dunia dan akhirat.

*****

Ada kisah lain yang mirip dengan kisah di atas.

Diriwayatkan dari Abdulhamid bin Mahmud Al-Ma’uli, dia berkata: Ketika aku duduk di hadapan Ibu Abbas radhiallahuanhu, datanglah sejumlah orang kepadanya, lalu mereka berkata:

“Kami keluar untuk berhaji, dan kami bersama teman kami, hingga ketika kami sampai ke suatu kampung, dia meninggal, maka kami pun mengurus jenazahnya. Kemudian kami bertolak, lalu menggali liang lahad untuknya, namun kami mendapati yang hitam telah memenuhi lahad, -yang dimaksud yang hitam adalah ular–, maka kami meninggalkan lahad tersebut.

Lalu kami menggali lagi lubang untuknya di tempat lain, ternyata kami juga mendapati yang hitam telah memenuhi lahad, maka kami pun meninggalkan lahad tersebut, lalu kami menggalikan lagi untuknya ketiga kalinya, dan ternyata kami juga mendapati yang hitam telah memenuhi lahad, maka kami pun meninggalkannya, lalu kami datang kepadamu (ini).”

Ibnu Abbas radhiallahuanhu berkata, “Itu adalah perbuatan yang telah dilakukannya. Kembalilah kalian, lalu kuburkanlah dia di salah satunya. Karena demi Allah, walaupun kalian menggali seluruh bumi, niscaya kalian akan mendapati yang hitam (yakni ular-ular) itu di dalamnya. Kabarkanlah kepada kaumnya.”

Salah seorang dari mereka berkata, “Kami pun bertolak, lalu kami menguburkannya di salah satu lahad tersebut. Setelah kami kembali ke rumah, keluarganya menemui kami untuk membawa barang miliknya yang bersama kami, lalu kami katakana kepada istrinya, “Perbuatan apa yang telah dilakukannya?”

Istrinya menjawab, “Dia biasa menjual bahan makanan, yakni gandum, dan setiap hari dia mengambil sekadar makanannya, kemudian dia mencampurkan dedak (sekam) sebanyak gandum yang diambil itu lalu dia memasukkannya ke dalam gandum tersebut.”[1]

Begitulah cerita singkat ini. Dia mengambil gandum sekadar untuk dia makan dari dagangannya, kemudian dia mencampurkan gandum dagangannya dengan sekam, sebanyak yang ia ambil tadi. Ini adalah dosa besar.

Imam Abu Al-Laits As-Samarqandi berkata: Khabar ini menunjukkan, bahwa khianat adalah sebab adzab kubur. Apa yang mereka lihat adalah pelajaran bagi yang hidup agar mereka menjaga diri dari sifat khianat.

Waspadalah dalam timbangan, waspalah dalam jual beli. Jangan sampai anda memakan hak orang lain, menipu orang dengan dagangan anda. Atau mencampurkan dagangan anda dengan sesuatu yang lain sehingga terlihat sesuai takaran, padahal ini adalah dosa-dosa yang membinasakan. Dan segala puja dan puji hanya kepada Allah swt.

———-

[1] Kisah ini terdapat dalam Kitab Tanbih Al-Ghafilin, Imam Abu Al-Laits As-Samarqandi, Jilid 1, Hal 91-92. Pustaka Azzam 2013. Juga di Ibnu Rajab dalam Ahwal Al-Qubur (147) menyandarkannya kepada Ibnu Abi Ad-Dunya.

Click to comment
To Top