Perumpamaan Kehidupan Dunia oleh Allah Ta’ala (1-) – Catatan Pemred
Lautan Hikmah

Perumpamaan Kehidupan Dunia oleh Allah Ta’ala (1-)

siklus daun

Sumber foto: google search

Alhamdulillahirabbil’alamin. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Kahfi, 18 : 45).

Imam Ibnu Katsir—Rahimahullah—berkata, Allah Ta’ala berfirman: “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia).” Wahai Muhammad, untuk umat manusia. “Kehidupan dunia ini.” Mengenai kesirnaan, kebinasaan, dan kehancurannya. “Ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi.” Maksudnya, apa-apa yang terdapat di dalamnya berupa biji-bijian, akan tumbuh berkembang menjadi indah. Kemudian, bunga bermekaran, cahaya pun bertaburan, dan pemandangan menjadi indah. Setelah itu semuanya, “Menjadi kering yang diterbangkan oleh angin.” Maksudnya angin menceraiberaikan dan menghempaskannya ke kanan dan ke kiri. “Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”  Maksudnya, Allah Mahakuasa menjadikan segala keadaan, (baik taman-taman) yang indah maupun yang kering ini.[1]

Inilah kehidupan dunia, semuanya akan sirna. Tidak ada yang kekal lagi abadi di muka bumi ini. Allah Ta’ala mengumpamakan kehidupan dunia dengan tumbuh-tumbuhan, yang mana tumbuh-tumbuhan itu awalnya tidak ada, kemudian menjadi ada, kemudian tumbuh dengan indah karena air hujan yang datang dari langit atas kehendak Allah Ta’ala. Setelah itu keindahannya sirna, ia menjadi kering, lapuk, kemudian diterbangkan oleh angin.

Begitu juga kehidupan manusia. Awalnya tidak ada, kemudian menjadi ada melalui air mani yang dipancarkan ke dalam rahim seorang ibu atas kehendak Allah Ta’ala. Kemudian lahirlah seorang bayi yang mungil lagi ceria dan menyenangkan di mata kedua orang tua, maupun orang lain. Ia tumbuh menjadi besar dan dewasa, kemudian menikah dan mempunyai anak, jika umurnya panjang, maka ia akan menjadi tua. Keindahan tubuh, keelokan rupanya, sudah sirna dari pribadinya. Ia hanya seorang kakek atau nenek yang mungkin hanya bisa berbaring di tempat tidur. Kemudian datanglah ajal yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun, maka ia berpulang. Harta dan berbagai apa yang diusahakan, ditinggalkannya, atau juga mungkin telah sirnah sebelum ajalnya tiba.

Dan segala puja dan puji hanya bagi Allah Ta’ala yang telah memberikan perumpamaan yang jelas dan terang benderang. Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang diberi pandangan. (Insya Allah, bersambung)

 


[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Kahfi, 18: 45). Jilid 5. Hal. 539).

Click to comment
To Top