Mereka yang Menjadikan Hawa Nafsunya Sebagai Tuhan – Catatan Pemred
Lautan Hikmah

Mereka yang Menjadikan Hawa Nafsunya Sebagai Tuhan

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji hanya kepada Allah, Rabb seluruh alam. Dialah Allah Yang Maha Hidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Hamba memuji-Nya dengan pujian berkesinambungan. Hamba memuji-Nya dengan pujian tidak terbatas. Dialah yang menguasai hari pembalasan. Dia berfirman:

“Dan milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya Kiamat, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakkan kebathilan (dosa).” (QS. Al-Jasiyah, 45: 27).

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya tercinta, serta para sahabat yang mulia. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.” (QS. Al-Jasiyah, 45: 23).

Imam Ibnu Katsir berkata, yakni ia hanya dibimbing dan diperintah oleh hawa nafsunya. Apa yang dilihat oleh nafsunya baik maka ia lakukan, dan apa yang dilihat oleh nafsunya jelek maka ia tinggalkan.[1]

Asy Sya’bi berkata, “Sesungguhnya hawa nafsu itu disebut al-hawaa (turun) karena ia dapat menurunkan/menjerumuskan orang yang mengikutinya ke dalam neraka.”[2]

Ada beberapa golongan penyembah hawa nafsu, dapat kami kemukakan sebagai berikut:

  1. Orang-orang yang sangat jelas lagi terang mengikuti hawa nafsunya adalah kalangan Ahlul Kitab. Mereka menganggap nabi-nabi mereka sebagai tuhan, dan menyembahnya, padahal nabi-nabi mereka adalah hamba dan utusan Allah. Bahkan nabi-nabi mereka itu digambarkan dan dibuat patung untuk kemudian mereka menyembahnya.
  2. Selain kalangan Ahlul Kitab pengikut hawa nafsu berikutnya adalah dari kalangan kaum kafir musyrik. Mereka adalah golongan penyembah batu dan berhala-berhala.
  3. Golongan ateis, mereka tidak percaya akan adanya Rabb, Allah yang telah menciptakan mereka dari tanah dan keturunan mereka dari mana apabila dipancarkan, namun mereka tidak beriman.
  4. Golongan Syiah, Ahmadiyah, serta aliran-aliran sesat lainnya. Mereka semua adalah pengikut hawa nafsu.
  5. Golongan Munafikin. Mereka adalah orang-orang munafik, mereka mengaku diri sebagai muslim, namun memusuhi kaum muslimin dan ajaran-ajarannya.
  6. Golongan ahlul bid’ah. Orang yang melakukan bid’ah sebelum hujjah datang kepadanya tidak disebut sebagai ahlul bid’ah. Namun jika hujjah atau ilmu dengan keterangan yang jelas telah datang kepadanya, tapi ia tidak meninggalkan bid’ah yang dilakukannya, maka ia adalah ahlul bid’ah. Dan mereka adalah mengikut hawa nafsu. Rasulullah saw bersabda: “Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian, hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”[3]
  7. Golongan yang mencintai kehidupan dunia daripada akhirat. Sifat mereka terlihat pada cintanya terhadap harta, jabatan, dan segala kenikmatan dunia yang semu, sehingga mereka tidak peduli terhadap Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Syariat Allah mereka letakkan di pungguh-punggung mereka.
  8. Golongan penganggum dan pengikut demokrasi, adalah orang-orang yang mengikuti demokrasi, baik pengaggum dan pembelanya, di mana telah datang ilmu kepada mereka bahwa demokrasi adalah kebathilan dan menyelisihi Al-Quran dan Sunnah. Tapi mereka tetap patuh, ridha, mengikuti, dan melestarikan, menganggumi demoktrasi, maka mereka adalah pengikut hawa nafsu.
  9. Golongan yang berbicara tanpa ilmu. Mereka adalah orang-orang yang berbicara perkara agama tanpa disertai ilmu, melainkan berdasarkan keinginan dan kemauan logika belaka. Mereka berargumen atas kekuatan logika, bukan dalil, yaitu Al-Quran dan Hadits.

Pengikut hawa nafsu bukan terbatas pada 9 golongan di atas. Bisa saja terdapat golongan lain, atau bisa dirincikan lagi sehingga pembahasannya lebih jelas dan terang. Kami beranggapan masalah ini harus dibahas secara rinci dan lebih dalam, karena Allah Ta’ala mengulang-ulang tercelanya pengikut hawa nafsu di dalam Al-Quran yang mulia. Semoga Allah Ta’ala memberikan kekuatan dan hidayah kepada kami untuk membahasnya secara mendalam dalam pembahasan yang khusus.

Demikianlah pembahasan kami. “Segala puji hanya kepada Allah, Rabb (pemilik) langit dan bumi. Rabb seluruh alam. Dan hanya bagi-Nya segala keagungan di langit dan di bumi, dan Dialah Yang Maha Perkasa Maha Bijaksana.” (QS. Al-Jasiyah, 45: 36-37).

 


[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Al-Jasiyah, 45: 23. Jilid 9, hal. 288.

[2] Al-Jami li Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi. (QS. Al-Jasiyah, 45: 23). Jilid, 16, hal 435.

[3] Hadis ini terdapat dalam Kanz Al-Umal 1/217 No. 1084. Dari riwayat Al-Hakim, Abu Nashr, dan As-Sajzi dalam Al-Ibaanah. As-Sajzi berkata, hadis ini hasan gharib. [catatan kaki dan haditsnya kami kutib dari Al-Jami li Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi. (QS. Al-Jasiyah, 45: 23). Jilid, 16, hal 436].

Click to comment
To Top