Lelaki Ini Coba Bunuh Diri, Tapi Ditolong Malaikat dengan Sayapnya – Catatan Pemred
Kisah

Lelaki Ini Coba Bunuh Diri, Tapi Ditolong Malaikat dengan Sayapnya

kerajaan
sumber foto: artstation.com

RASULULLAH saw bersabda: Sesungguhnya dulu di kalangan Bani Israil ada seorang ahli ibadah, yang dianugerahi keindahan dan ketampanan. Dia biasa membuat keranjang dengan tangannya lalu menjualnya.

Pada suatu hari dia melewati pintu raja, lalu seorang budak perempuan milik istri raja melihatnya, maka budak perempuan itu menemui majikannya (istri raja) dan berkata kepadanya, “Dia luar ada seorang lelaki yang aku tidak pernah melihat yang lebih tampan darinya. Ia berkeliling menjual keranjang.”

Wanita itu (Istri Raja) berkata, “Masukkan dia ke tempatku.” Maka Budak perempuan itu memasukkannya, lalu wanita itu melihatnya dan dia tertarik kepadanya, lantas dia berkata, “Buanglah keranjang itu, dan ambillah selimut ini.”

Lalu dia berkata kepada budak perempuannya, “Ambillah minyak wahai budak, dan bawakan minyak wangi hingga kami menuntaskan keperluan kami terhadapnya, dan dia menuntaskan keperluannya dari kami.”

Wanita itu pun berkata, “Cukuplah (uang) ini untukmu dari (menjual) keranjang ini.” Ahli ibadah itu berlata, “Aku tidak menginginkan itu.”

Berkali-kali ia mengatakan itu, namun wanita itu berkata, “Walaupun engkau tidak menginginkannya, tapi engkau tidak bisa keluar hingga kami menyelesaikan kebutuhan kami terhadapmu.”

Lalu wanita itu memerintahkan untuk menutup pintu-pintu, maka ditutuplah pintu-pintu. Tatkala ahli ibdah melihat demikian maka dia berkata, “Apakah di atas istana kalian ini ada tempat wudhu?”

Wanita itu menjawab, “Ya.” Kemudian dia berkata, “Wahai budak, naiklah dengan membawakan air wudhunya.”

Setelah ahli ibadah itu naik, dia menghampiri sudut atap, lalu dia melihat (keluar) ternyata istana itu sangat tinggi, dan tidak ada sesuatu yang bisa digunakan untuk bergelantungan, yang bisa mengantarkan dirinya dari atas atap.

Maka dia pun mencela dirinya, dia berkata, “Wahai jiwa, sejak tuju puluh tahun yang lalu engkau mencari ridha Rabb Yang Maha Mulia, antusias kepada-Nya di sepanjang malam dan siang. Namun datang satu malam saja yang bisa menghancurkan ini semua padamu. Demi Allah sungguh engkau khianat jika malam itu tiba, dan itu akan merusak amalmu. Hempaskanlah dirimu dari atap ini, maka engkau akan berjumpa Allah dengan sisa amalmu.” Dia terus mencela dirinya.

Rasulullah saw melanjutkan, Setelah dia siap untuk menghempaskan dirinya, Allah swt berfirman kepada Jibril, “Wahai Jibril.” Jibril menjawab, “Labbaik wa sa’daik.” Allah berfirman, “Hamba-Ku ini hendak bunuh diri untuk menghindari kemurkaan-Ku dan kemaksiatan terhadap-Ku. Ambillah dia dengan sayapmu agar tidak terkena sesuatu yang tidak diinginkan.” Maka Jibril alahissalam pun membentangkan sayapnya, lalu mengambilnya, kemudian meletakkan sebagaimana orang tua yang penuh kasih sayang meletakkan anaknya. Lalu ahli ibadah itu menemui istrinya dan meninggalkan keranjangnya, saat itu matahari telah terbenam.

Istrinya bertanya, “Mana hasil penjualan keranjang?” Dia menjawab, “Aku tidak mendapatkan hasilnya hari ini, “

Istrinya berkata, “Dengan apa kita berbuka malam ini?” Dia berkata, “Kita bersabar malam ini.” Kemudian dia berkata, “Berdirilah, kemudian nyalakan tungkumu karena khawatir tetangga kita jika tidak melihat tungku kita mengepul, maka akan menyibukkan hati mereka terhadap kita.”

Maka istrinya pun berdiri lalu menyalakannya, kemudian dia datang dan duduk. Lantas datanglah seorang wanita tetangganya, lalu berkata, “Wahai Fulanah, apa engkau punya kayu bakar?.” Dia menjawab, “Ya, masuklah, dan ambillah dari tungku.”

Wanita itu pun masuk, kemudian keluar, lalu berkata, “Wahai Fulanah, mengapa aku hanya melihatmu duduk berbincang-bincang dengan Fulan (suamimu) padahal rotimu sudah matang di tungku dan hampir gosong?”

Maka istrinya itu berdiri, ternyata tungkunya dipenuhi roti yang bersih, lalu dia pun menempatkannya di piring, kemudian datang membawakannya kepada suaminya, lalu dia berkata kepadanya, “Sesungguhnya Rabbmu tidak akan melakukan ini kepadamu kecuali karena engkau mulia bagi-Nya. Maka berdoalah kepada Allah agar melapangkan kehidupan kita di sisa umur kita ini.”

Dia berkata kepada istrinya, “Bersabarlah atas hal itu.” Sang istri terus mendesaknya, hingga ahli ibadah itu berkata, “Baiklah, aku akan melakukannya.”

Dia pun bangun di tengah malam melaksanakan shalat, dan berdoa kepada Allah, dia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya istriku meminta kepadaku, maka berilah dia apa yang dapat mencukupi di sisa umurnya.”

Lantas terbelahlah atap rumahnya, lalu turunlah kepadanya seraup intan yang menerangi rumah itu sebagaimana lilin menerangi ruangan.

Lalu ahli ibadah itu menyenggol kaki istrinya yang sedang tidur di dekatnya, lalu dia berkata kepadanya, “Duduklah, dan ambillah apa yang engkau minta.”

Istrinya berkata, “Jangan tergesa-gesa, untuk inikah engkau membangunkanku? Sungguh aku bermimpi di dalam tidurku, seakan-akan aku melihat kursi bertakhtakan emas, bertabur intan dan permata, dan ada rongga (celah) padanya, lalu aku berkata, “Milik siapa ini?” Mereka berkata, “Ini tempat duduk suamimu.”

Maka aku berkata,”Lalu rongga apa ini?” Mereka berkata, “Itu yang suamimu minta disegerakan.” Maka aku berkata, “Aku tidak membutuhkan sesuatupun dari yang menyebabkan  rongga pada tempat dudukmu.” “Berdoalah kepada Rabbmu.”

Maka dia pun berdoa kepada Rabbnya, maka raupan intan permata itu pun kembali.[1]

 

HIKMAH DAN PELAJARAN

Ini adalah kisah yang cukup mahsyur dari masa ke masa. Banyak pelajaran yang terhimpun dalam kisah ini, yaitu mulai dari menekuni pekerjaan yang halal, yakni menjual keranjang, kemudian lelaki ini mampu keluar dari godaan wanita.

Padahal wanitanya yang membayar. Asalkan ia bisa menuntaskan keperluannya, yang tidak lain adalah maksiat kepada Allah swt.

Hikmah dan pelajaran yang paling berharga di sini adalah bersabar. Sabar atas penderitaan dalam menjalani kehidupan dunia. Lihatlah, bagaimana ia tetap menyalakan tungku, supaya penderitaannya tidak diketahui tetangga sehingga dapat menyibukkan hati mereka.

Kemudian bersabar supaya tidak disegerakannya segala kebaikan di dunia. Tetapi menyimpannya untuk kehidupan abadi di akhirat. Ya Ilahi ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasil lagi Maha Penyayang. Dan segala puji hanya kepada-Mu.

[1] Kisah ini terdapat dalam Kitab Tanbih Al-Ghafilin, Imam Abu Al-Laits As-Samarqandi, Jilid 2, Hal 891-898. Pustaka Azzam 2013. Sayyid Al-Arabi yang mentahqiq Kitab Ini mengatakan, dia belum menemukan sanad kisah ini.

Click to comment
To Top