Kunci-kunci Memohon Pertolongan Kepada Allah – Catatan Pemred
Tafsir

Kunci-kunci Memohon Pertolongan Kepada Allah

Alhamdulillahirabbil’alamin. Hamba memohon kemudahan dari Allah Ta’ala dalam memulai tulisan ini. Kita mencoba mendalami salah satu ayat Al-Quran yang mana Allah Ta’ala memberitahukan kepada hamba-Nya, untuk memohon pertolongan kepada Allah dengan dua cara. Yakni bersabar dan shalat. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala berikut:

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesusungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali kepada orang-orang yang khusyu. (Yaitu) mereka yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah, 2: 45-46).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Dalam firman-Nya ini, Allah swt memerintahkan hamba-Nya untuk meraih kebaikan di dunia dan di akhirat yang mereka dambakan, dengan cara menjadikan kesabaran dan shalat sebagai penolong.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Muqatil bin Hayyan dalam tafsirnya tentang ayat ini: “Hendaklah kalian mengejar kehidupan akhirat dengan menjadikan kesabaran dalam mengerjakan berbagai kewajiban dan menjadikan shalat sebagai penolong.”[1]

Amam Al-Qurthubi menulis dalam tafsirnya, bahwa Mujahid berkata, sabar yang dimaksud dalam ayat ini adalah puasa. Oleh karena itulah bulan Ramadhan disebut dengan bulan kesabaran. Dengan demikian, puasa dan shalat—menurut pendapat ini—yang ada dalam ayat ini adalah sesuai, di mana puasa dapat menghilangkan syahwat dan membuat zuhud dari keduniawian, sedangkan shalat mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Lebih dari itu, di dalam shalat di dalam puasa dan shalat ini pun dibacakan Al-Quran yang dapat mengingatkan kepada akhirat.[2]

Kemudian Imam Qurthubi—rahimahullah—berkata, sabar atas penderitaan dan dalam ketaatan termasuk pendidikan jiwa dan pengekangannya dari hawa nafsu, serta mencegahnya dari berbagai tuntutannya. Ini merupakan akhlak para nabi dan orang-orang yang shalih.[3]

Yahya bin Al-Yaman berkata, “sabar adalah tidak mengandai-andaikan situasi, selain apa yang Allah karuniakan kepadamu, serta ridha terhadap apa yang Allah putuskan untukmu terkait dengan urusan dunia dan akhiratmu.”[4]

Asy-Sya’bi berkata, “Ali ra berkata, ‘Sabar itu sebagian dari iman seperti kepala yang merupakan bagian dari tubuh.”[5]

Ath-Thabari berkata, “Alangkah benar (apa yang dikatakan oleh) Ali. Sebab iman adalah mengenal Allah dengan hati, menetapkan dengan lidah, dan mengerjakan dengan anggota tubuh. Maka barangsiapa yang tidak bersabar dalam melakukan perbuatan dengan anggota tubuhnya, sesungguhnya dia tidak berhak atas keimanannya—secara absolut. Dengan demikian, sabar dalam melaksanakan syari’at adalah seperti kepala yang merupakan bagian dari tubuh manusia, dimana manusia tidak akan pernah mencapai kesempurnaan kecuali dengan adanya kepala.”[6]

Dalam perkara sabar, Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar, 39: 10).

Kemudian Allah Ta’ala juga berfirman:

“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: ‘Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan pahala itu tidak akan didapat, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Qashash: 80).

Masih banyak ayat Al-Quran yang menyebutkan keutamaan bersabar. Maka itulah, Allah Ta’ala menganjurkan kepada manusia, supaya memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dengan sabar dan shalat. Sungguh sabar itu tidak ada batas. Sabar itu sabar terus sampai kita kembali kepada Allah Ta’ala.

Shalat adalah tiang agama. Seseorang yang tidak shalat atau lalai dari shalatnya, maka runtuhlah agamanya. Ia termasuk orang yang paling merugi, di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari iabadah-ibadah lainnya).” (QS. Al-Ankabuut: 45).

Dalam hadis-hadis shahih, shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab oleh Allah Ta’ala di Hari Kiamat. Sungguh, shalat lima waktu inilah yang membedakan kita ummat Islam dengan ummat-ummat yang lain. Yang membedakan antara mukmin dan munafikin, muslim dan kafir.

Allah Ta’ala menyandingkan antara sabar dan shalat dalam memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Karena memohon pertolongan itu membutuhkan kesabaran, terkadang pertolongan dikabulkan namun ditangguhkan untuk jangka waktu tertentu. Maka butuh kesabaran untuk menunggu pertolongan tersebut.

Dalam mendirikan shalat, juga membutuhkan kesabaran dalam menegakkannya. Jika seseorang tidak bersabar, maka ia akan lalai dari shalatnya. Maka itu Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesusungguhnya yang demikian itu sungguh berat.”

Jika dhamir ayat ini dikembalikan kepada shalat, maka shalat itu sungguh berat. Juga jika dhamir dalam ayat ini dikembalikan kepada keduanya yakni sabar dan shalat, maka memang keduanya itu sungguh berat. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali kepada orang-orang yang khusyu.”

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) mereka yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” Imam Ibnu Katsir berkata, ayat ini menyempurnakan kandungan ayat sebelumnya, bahwasanya shalat atau wasiat itu merupakan beban yang berat: “Kecuali kepada orang-orang yang khusyu. (Yaitu) mereka yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” Yakni mengetahui bahwa mereka akan dikumpulkan kepada-Nya pada Hari Kiamat dan dikembalikan kepada-Nya.[7]

Ayat ini seakan-akan Allah Ta’ala memberitahukan kepada kita tentang khusyu, bahwa orang-orang yang khusyu itu, adalah orang-orang yang, “Yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” Karena memang seseorang, apabila ia mengingat tentang kematian, mengingat tentang hari kebangkitan, mengingat tentang Neraka dan Surga, maka ia akan khusyu. Karena mengingat semua itu sama saja dengan mengingat kepada Allah Ta’ala, sebab semua itu adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala, ancaman-Nya, serta janji-Nya. Jika seseorang mengenal Rabb-Nya, maka ia akan khusyu dalam beribadah. Cara untuk mengenal Rabb dengan sungguh-sungguh adalah melalui Kitabullah, kemudian Sunnah Rasul-Nya.

Karena di dalam dua sumber Islam dan ilmu tersebut, manusia dan jin akan mengetahui siapa Allah Ta’ala, bagaimana kekuasaan-Nya, apa saja ancaman-Nya, apa saja janji-Nya, apa saja tanda-tanda kebesaran-Nya. Semakin mengenal Allah Ta’ala, seorang hamba semakin tunduk dan takut serta berharap hanya kepada Allah Ta’ala. Maka inilah khusyu.

Imam Al-Qurthubi berkata, khusyu adalah kondisi di dalam jiwa yang tercermin pada anggota tubuh dengan adanya ketenangan dan kerendahan hati.[8]

Qatadah berkata, “khusyu itu berada di dalam hati. Ia adalah perasaan takut dan menundukkan pandangannya di dalam shalat.”[9]

Kandungan makna yang terkandung dalam dua ayat ini sungguh besar. Allah memberikan hamba-Nya tuntunan cara dalam memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Yaitu dengan sabar dan shalat, baik itu sabar yang dimaksudkan adalah puasa, sebagaimana penafsiran beberapa ulama tafsir di atas dalam ayat ini, maupun sabar dalam arti yang sudah dikenal.

Doa yang baik, adalah doa yang dipanjatkan ketika sedang dalam shalat. Karena shalat adalah saat terdekat dengan Allah Ta’ala, khususnya lagi saat kita sedang sujud, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw dalam berbagai hadis sahih. Kami cukupkan sampai di sini, dan segala puja dan puji hanya bagi Allah Ta’ala, yang telah mengajarkan hamba-Nya baca tulis dengan perantara qalam. (*).



[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Baqarah, 2: 45-46). Jilid 2. Hal. 238.
[2] Al-Jami’li-Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi. QS. Al-Baqarah, 2; 45. Jilid 1, Hal. 818.
[3] Al-Jami’li-Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi. QS. Al-Baqarah, 2; 45. Jilid 1, Hal. 818.
[4] Al-Jami’li-Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi. QS. Al-Baqarah, 2; 45. Jilid 1, Hal. 818.
[5] Al-Jami’li-Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi. QS. Al-Baqarah, 2; 45. Jilid 1, Hal. 818.
[6] Al-Jami’li-Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi. QS. Al-Baqarah, 2; 45. Jilid 1, Hal. 818.
[7] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Baqarah, 2: 45-46). Jilid 2. Hal. 240.
[8] Al-Jami’li-Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi. QS. Al-Baqarah, 2; 45. Jilid 1, Hal. 823.
[9] Al-Jami’li-Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi. QS. Al-Baqarah, 2; 45. Jilid 1, Hal. 823.

Click to comment
To Top