Kisah Pertemuan Nabi Isa dengan Iblis – Catatan Pemred
Kisah

Kisah Pertemuan Nabi Isa dengan Iblis

sunset
sumber foto: fullhdpictures.com

SUATU ketika iblis menemui Isa bin Maryam dan berkata, ‘Apakah kamu benar-benar yakin bahwa kamu tidak akan mendapatkan musibah kecuali yang telah ditetapkan kepadamu? Jika benar demikian, maka angkatlah puncak gunung ini dan hempaskanlah pada dirimu sendiri, lalu kita lihat selanjutnya apakah kamu masih hidup atau tidak.”

Lalu Isa mengatakan, ‘Tidakkah kamu tahu bahwa Allah berfirman, ‘Tidak semestinya hamba-Ku menguji-Ku, karena Aku akan melakukan apapun yang Aku kehendaki.”[1]

Setan ini berpura-pura menjadi pengikut Nabi Isa as, selama 10 tahun atau dua tahun. Begitu yang terdapat dalam salah satu riwayat Abu Dawud yang dinukil Imam Ibnu Katsir.

Nabi Isa as kemudian mengetahui bahwa yang mengajukan pertanyaan untuk mengujinya adalah iblis, maka ia segera mengusirnya.

Iblis ingin menguji Nabi Isa as tentang qadha dan qadar, namun Nabi Isa as mengetahui, bahwa tidak sepantasnya seorang hamba menguji Rabb-nya, justru harus sebaliknya bahwa seorang hambalah yang akan diuji Rabb-nya.

Inilah iblis, ia akan selalu menyampaikan perumpamaan kepada manusia, mengikuti dan menguji kemampuan ilmu agama serta amalannya. Maka jangan sekali-kali terlena. Jika kalian mendapati pertanyaan semacam ini dari mulut manusia sekalipun, maka mintalah perlindungan kepada Allah swt dari godaan dan bisikan syaitan yang terkutuk.

Dalam riwayat lain disebutkan kisah ini sebagaimana berikut: “Pada suatu kali Isa melakukan shalat di sebuah puncak gunung, lalu Iblis dating kepadanya dan berkata, ‘Bukankah kamu orang yang mengira bahwa segala sesuatu terjadi menurut qadha dan qadar?’ Isa menjawa ‘benar sekali’.

Lalu Iblis berkata, ‘Jika begitu, maka lemparkanlah dirimu dari atas gunung ini, dan katakanlah bahwa itu telah ditakdirkan untukmu.’

Lalu Isa berkata, ‘Wahai makhluk yang terlaknat, Allah-lah yang emnguji hamba-Nya, bukan hamba yang menguji Rabb-nya.”[2]

Petiklah hikmahnya, dan waspadalah terhadap tipu daya syaitan. Karena dia akan datang dengan segala pertanyaan untuk menghancurkan iman seseorang. Dan segala puji hanya kepada Allah swt.

[1] Riwayat ini berasal dari Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Muhammad bin Yahya bin Faris, dari Abdurrazzak, dari Ma’mar, dari uhri dari Ibnu Thawus dari ayahnya. (Dikutip dari Kitab Qashash Al-Anbiyaa, Karya Imam Ibnu, Hal. 991 Pustaka Al-Kautsar 2002).

[2] Kitab Qashash Al-Anbiyaa, Karya Imam Ibnu, Hal. 992 Pustaka Al-Kautsar 2002). Dan Mukhtasar Tarikh Dimasyqa (20/98).

Click to comment
To Top