Kisah Pemuda Berbuka Puasa Bersama Bidadari Surga Bernama Al Aina Al Mardiyyah, Duhai Cantiknya… – Catatan Pemred
Kisah

Kisah Pemuda Berbuka Puasa Bersama Bidadari Surga Bernama Al Aina Al Mardiyyah, Duhai Cantiknya…

ALLAH swt telah memberitahukan kepada kami dalam sejumlah ayat tentang para bidadari. Mereka adalah gadis-gadis jelita yang tetap parawan. Cantiknya tak terbayang, belum penah disentuh oleh satu mahkluk pun. Mereka tetap muda, sebaya umurnya, dan selalu seperti itu.

Ada salah satu kisah menarik, di mana salah seorang tabiut-tabiin, bermimpi bertemu dengan bidadari yang bernama Al Aina Al Mardiyyah. Kisah penuh hikmah ini terdapat dalam Kitab Tanbih Al-Ghafilin Imam Abu Al-Laits As-Samarqandi.

Diriwayatkan dari Abdul Wahid bin Yazid ra, dia berkata: “Pada suatu hari ketika aku sedang di majelis kami ini, dan kami telah siap untuk berangkat perang, yang mana aku telah memerintahkan para sahabatku untuk bersiap-siap di pagi hari pada hari Senin, dan seorang lelaki telah membacakan di majelis kami:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah, 9: 111).

Lalu berdirilah seorang anak berusia lima belas tahun atau sekitar itu, yang mana ayahnya telah meninggal, dan dia mewarisi harta yang banyak, lalu dia berkata:

“Wahai Abdul Wahid ‘Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.’ Aku berkata, ‘Benar, wahai sayangku.’

Dia berkata, “Sesungguhnya aku persaksikan kepadamu, wahai Abdul Wahid, bahwa aku telah menjual diriku dan hartaku agar aku mendapatkan surga.”

Maka aku (Abdul Wahid) berkata kepadanya, “Sesungguhnya tajamnya pedang lebih berat dari itu, sedangkan engkau masih kecil. Aku khawatir engkau tidak sabar dan tidak mampu melakukan itu.”

Ia berkata, “Wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku berbaiat kepada Allah dengan surga. Kemudian bila aku tidak mampu, maka aku persaksikan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku berbaiat kepada Allah.” Lalu dia berkata, “Tapi engkau malah meremehkan diriku.”

Kami bergumam, “Anak kecil bisa melakukan itu, sedangkan kita tidak bisa melakukannya.”

Setelah itu dia keluar membawa semua hartanya, menyedekahkannya, kecuali kudanya, senjatanya dan bekalnya.

Lalu pada hari keberangkatan, dialah yang pertama kali muncul kepada kami, lalu dia berkata, “Assalamu’alaika Wahai Abdul Wahid.” Maka aku menjawab, “Walaikassalam warrahmatullahi wabarakatuh. Sungguh jual beli yang menguntungkan.”

Kemudian kami berangkat dan dia turut bersama kami sambil berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, serta melayani kami, menggembalakan ternak kami, dan menjaga kami bila kami tidur malam, hingga mengantarkan kami ke negeri Romawi.

Pada suatu hari, ketika kami sedang demikian, tiba-tiba dia datang dan berteriak, “Duhai rindunya kepada Al Aina Al Mardiyyah.”

Sampai-sampai para sahabatku berkata, “Mungkin anak ini telah diganggu, atau akalnya kacau.” Hingga setelah dekat, dia berteriak, “Wahai Abdul Wahid, aku sudah tidak sabar. Aku merindukan Al Aina Al Mardiyyah.” Aku berkata, “Sayangku, apa itu Al Aina Al Mardiyyah?”

Dia berkata: Sesungguhnya aku telah tertidur sejenak, lalu aku melihat seakan-akan ada yang datang kepadaku, lalu dia berkata, “Aku akan membawamu pergi ke sumber air yang diridhai, lalu tetaplah bersamaku di sebuah kebun, di sana terdapat sungai yang airnya tidak asin.”

Ternyata di tepi sungai itu ada wanita-wanita jelita yang mengenakan berbagai perhiasan yang tidak dapat aku ceritakan keindahannya. Tatkala mereka melihatku, mereka gembira dan berkata, “Ini suaminya Al Aina Al Mardiyyah telah datang.”

Maka aku berkata, “Assalamu ‘alaikunna, siapa Al Aina Al Mardiyyah di antara kalian? “Mereka berkata, “Tidak ada, kami hanyalah para pelayannya dan budak-budaknya. Majulah engkau ke depanmu.”

Maka aku pun maju, ternyata di sungai itu terdapat susu yang tidak berubah rasanya, dan di telaga itu terdapat berbagai perhiasan, dan di sana juga ada wanita-wanita jelita, tatkala aku melihat mereka, aku terfitnah karena keindahan dan kecantikan mereka, dan tatkala mereka melihatku, mereka gembira dan berkata, “Ini, demi Allah, suaminya Al Aina Al Mardiyyah telah datang kepada kita.”

Maka aku berkata, “Assalamua’laikunna, apakah di antara kalian ada Al Aina Al Mardiyyah?” Mereka menjawab, “Walaikassalam, wahai wali Allah, kami adalah para pelayannya dan para budaknya, majulah ke depanmu.”

Maka aku pun maju, ternyata ada sungai lainnya berisi khamer di tepi lembah, di sana ada juga wanita-wanita jelita yang membuatku lupa siapa yang tadi aku tinggalkan. Lalu aku berkata, “Assalamulaikunna, siapa di antara kalian Al Aina Al Mardiyyah?” Maka mereka berkata, “Tidak ada, kami hanyalah para budaknya dan para pelayannya. Berjalanlah ke depanmu.”

Maka aku pun maju, ternyata ada sungai lainnya berisi madu bening, dan telaga yang di sana juga terdapat wanita-wanita jelita dari cahaya keindahan hingga membuatku lupa siapa yang aku tinggalkan (tadi). Lalu aku berkata, “Assalamu’alaikunna, apakah di antara kalian ada Al Aina Al Mardiyyah?”

Mereka menjawab, “Tidak ada, wahai wali Ar-Rahman, kami hanyalah para budaknya. Majulah ke hadapanmu.”

Maka aku pun maju, lalu diangkatkan tenda mutiara berongga untukku, di pintu tenda itu ada wanita yang mengenakan berbagai perhiasan yang aku tidak dapat menceritakannya. Tatkala dia melihatku, dia gembira, lalu berseru dari tenda itu, “Wahai Al Aina Al Mardiyyah, ini suamimu telah datang.”

Lalu aku mendekati tenda itu, lalu aku masuk ke dalamnya, ternyata dia tengah duduk di atas mahligainya, dan mahligainya itu terbuat dari emas yang bertahtakan mutiara dan intan.

Tatkala aku melihatnya, aku terfitnah olehnya, dia berkata, “Selamat datang wahai wali Ar-Rahman. Telah dekat waktu kedatanganmu kepada kami.”

Maka aku pun menghampirinya untuk memeluknya, namun dia berkata, “Tunggulah, karena belum tiba saatnya bagimu untuk memelukku. Karena pada dirimu masih ada roh kehidupan, dan malam ini engkau akan berbuka bersama kami, Insya Allah Ta’ala.” Lalu aku terjaga (terbangun), Wahai Abdul Wahid, dan aku tidak sabar ingin menemuinya.’

Abdul Wahid berkata: perbincangan kami telah berhenti hingga datanglah pasukan musuh, maka kami pun menghadapi mereka dengan membawa serta anak itu. Lalu aku menghitung ada Sembilan musuh yang dibunuh oleh anak itu, dan dia menjadi yang kesepuluh.

Ketika aku melewatinya dia bergelimang darah, dia tersenyum sepenuh mulutnya hingga dia meninggalkan dunia.’[1]

Demikian kisah penuh hikmah ini. Kebenaran mimpi ini sepenuhnya kita serahkan kepada Allah swt. Tapi perjalanan spiritual seseorang yang memiliki iman yang kokoh, hendaknya kita jadikan pelajaran, apalagi bagi kita yang kakinya tidak pernah berdebu di jalan Allah swt.

Sungguh, mimpi adalah perjalanan roh seseorang menuju alam lain. Karena ketika seseorang tidur, maka mimpi itu dialami roh, terkadang melibatkan raga. Mimpi yang baik datang dari Allah swt, dan mimpi buruk datang dari syaitan. Dan mimpi yang dialami pemuda ini, tergolong mimpi baik. Wallahu’alam.

Demikian dan segala puji hanya kepada Allah swt.

————–

[1] Kisah ini terdapat dalam Kitab Tanbih Al-Ghafilin, Imam Abu Al-Laits As-Samarqandi, Jilid 2, Hal 920-923. Pustaka Azzam 2013. Dalam meriwayatkannya Imam Abu Al-Laits As-Samarqandi berkata, Ayahku rahimahullah, menceritakan kepada kami dengan sanadnya dari Abdul Wahid bin Yazid rhadiallahuanhu.

Click to comment
To Top