Kisah Kejeniusan Umar bin Khattab – Catatan Pemred
Kisah

Kisah Kejeniusan Umar bin Khattab

masjid

UMAR bin Khatab dilapori perihal seorang pemuda yang diketemukan tewas di tengah jalan. Dia mencari tahu tentang pelaku pembunuhan tersebut, akan tetapi usahanya tidak membuahkan hasil sama sekali. Dia benar-benar kehilangan jejak pembunuh pemuda itu.

Hal itu membuatnya sangat sedih sehingga dia berdoa, “Ya Allah, berilah aku petunjuk untuk mengetahui siapakah sebenarnya yang melakukan perbuatan ini.”

Kasus ini sudah berlalu hampir setahun. Tiba-tiba di lokasi yang sama, ditetmukan seorang bayi mungil yang ditelantarkan begitu saja. Umar diberi laporan tentang hal tersebut, sehingga dia berkata, “Insya Allah aku akan berhasil menyingkap kasus pembunuhan yang telah mengendap hampir setahun itu.”

Umar menyerahkan bayi kecil itu kepada seorang wanita. Dia berkata kepada wanita itu, “Rawatlah bayi ini dengan baik, perhatikan siapa yang akan mengambil anak ini. Jika kamu menjumpai seorang wanita yang mencium atau merangkul bayi ini, cepat laporkan kediaman wanita itu kepadaku.”

Ketika anak itu sudah mulai beranjak besar, datang seorang wanita kepada wanita yang telah merawat bayi tersebut. Dia berkata kepadanya, “Sesungguhnya tuanku telah mengutusku untuk datang kepadamu dan menyuruhku untuk membawa anak ini agar dia bisa menyaksikan bagaimana perkembangannya. Setelah itu dia akan mengembalikannya lagi kepadamu.”

Wanita ini berkata, “Baiklah aku akan menyertai kepergianmu dengan anak ini.” Maka wanita tersebut pergi bersama pengasuh bayi lelaki itu menuju rumah majikannya.

Ketika wanita majikan itu menyaksikan anak laki-laki tersebut, dia langsung mendekap dan menciumnya. Ternyata dia adalah putri seorang syaikh dari kalangan Anshar (penduduk Madinah) yang masih termasuk salah seorang sahabat Rasulullah saw.

Wanita pengasuh bayi itu melaporkan kejadian yang baru saja disaksikan kepada Umar. Mendengar laporan tersebut Umar langsung membuka sarung pedangnya dan pergi menuju rumah wanita yang baru saja mencium dan memeluk anak laki-laki itu.

Dia menjumpai ayahnya sedang duduk di depan pintu rumah sambil memegang kedua lutut, “Wahai ayah si fulanah, apa yang telah diperbuat oleh anak perempuanmu si fulanah?” Tanya Umar.

Dia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, semoga Allah membalasnya dengan setimpal kebaikan. Dia adalah anak perempuan yang paling mengerti akan hak Allah swt dan hak ayahnya. Dia juga sangat rajin mengerjakkan shalat, berpuasa dan melakukan semua perintah agamanya.”

Umar berkata, “Aku ingin menjumpainya dan memberinya anjuran agar lebih bersemangat lagi melakukan kebajikan.”

Orang tua itu pun mempersilahkan Umar untuk masuk ke dalam rumah sambil berkata, “Semoga Allah memberimu balasan kebaikan yang setimpal wahai Amirul Mukminin. Silahkan duduk di situ sampai aku kembali lagi kepadamu.”

Dia meminta ijin kepada Umar untuk memanggil putrinya. Dia keluar bersama dengannya dan membiarkan Umar bercakap-cakap dengan putrinya di dalam rumah. Perbincangan di antara mereka berdua tidak disaksikan oleh satu orang pun.

Umar memperlihatkan pedangnya yang telah terhunus sambil berkata, “Berkatalah jujur kepadaku!”

Selama itu belum pernah ada seorang pun yang berani memberikan kesaksian bohong di hadapan Umar. Wanita itu berkata, “Demi Allah, aku akan mengatakan kejadian yang sebenarnya kepadamu wahai Amirul Mukminin.”

Wanita itu mulai bercerita, “Sesungguhnya dulu ada seorang nenek yang menemuiku dan aku telah menganggapku seperti ibuku sendiri. Dia juga memperlakukan aku seperti layaknya putri kandungnya sendiri. Hal itu berjalan selama beberapa waktu lamanya. Kemudian dia berkata kepadaku, “Wahai Putriku, sesungguhnya aku harus pergi dalam waktu dekat ini. Aku memiliki seorang putri di sebuah tempat. Aku sangat mengkhawatirkannya selama kepergianku nanti. Aku akan merasa sangat senang apabila dia aku pasrahkan kepadamu sampai aku datang dari kepergianku.”

Wanita tua itu mendandani anak laki-lakinyaa sebagaimana layaknya seorang wanita dan menitipkannya kepadaku. Aku sama sekali tidak mencurigai hal tersebut. Aku benar-benar manyangkanya sebagai seorang anak perempuan.

Dia telah melihatku dengan penuh gairah. Sampai suatu ketika aku lelah dan tertidur. Aku sama sekali tidak tidak sadar dan baru terjaga ketika dia telah menggauli tubuhku. Aku langsung mengambil parang yang berada di sampingku dan menusukkan ke tubuhnya sampai mati.

Kemudian aku menyuruh seseorang untuk melemparkan mayatnya di jalan. Ternyata aku mengandung akibat perbuatan pemuda tersebut. Ketika aku melahirkan bayinya, aku meletakkan bayi tersebut di tempat ayahnya dulu aku buang. Inilah kisah yang sebenarnya terjadi.”

Umar berkata, “Kamu telah berkata jujur. Mudah-mudahan Allah memberkatimu.” Kemudian Umar memberinya beberapa wasiat, nasehat, serta doa. Umar juga berkata kepada ayahnya, “Semoga Allah memberikan berkah kepadamu melalui putrimu. Putrimu adalah anak perempuan yang paling baik.”

Syaikh itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang setimpal di dalam kepemimpinanmu.”

Kisah ini tertuang dalam Kitab Dzama Al-Hawa oleh Imam Ibnu Jauzi. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul Belenggu Nafsu, terdapat dalam hal, 596. Perebit Pustaka Azzam, 2014.

Kisah ini menyimpan banyak pelajaran dan hikmah. Di sini kita bisa melihat bagaimana insting Umar bin Khatab dalam menyingkap misteri kematian pemuda itu. Dan sesungguhnya ini adalah petunjuk dari Allah swt kepada Umar.

Yang lebih berharga lagi adalah keimanan wanita ini, dan kesabaran ayahnya dalam menghadapi kenyataan hidup mereka. Ia tetap mencium dan memeluk bayinya, meskipun itu adalah buah dari perbuatan bejat lelaki yang menyerupai perempuan. Bayi itu tidak bersalah. Dan ibunya juga berada dalam kejujuran.

Demikian kisah singkatnya. Barakallahufikum.

Click to comment
To Top