Kisah Cinta Khalifah Harun Ar-Rasyid – Catatan Pemred
Kisah

Kisah Cinta Khalifah Harun Ar-Rasyid

masjid
sumber foto: google image

ABDULLAH bin Al-Faraj Al-Abid, dia berkata: Pada suatu hari aku keluar mencari seseorang yang bisa membetulkan sesuatu untukku di rumah.

Aku pergi lalu aku ditunjukkan kepada seorang lelaki berwajah tampan, di hadapannya ada tali-tali dan keranjang, lalu aku berkata, “Maukah engkau bekerja untukku dari siang sampai malam?” Dia menjawab “Ya.”

Aku bertanya lagi, “Berapa upahnya?” Dia menjawab, “Satu dirham dan satu daniq (seperenam dinar).” Maka aku berkata, “Marilah.”

Dia pun berdiri, lalu pada hari itu dia bekerja seperti bekerjanya tiga orang. Kemudian aku mendatanginya lagi pada hari kedua, lalu aku menanyakannya, lalu dikatakan kepadaku, bahwa lelaki itu dalam satu pekan hanya terlihat sehari, yaitu pada hari anu.

Lalu aku pun menunggu hingga tibanya hari yang mereka sebutkan, kemudian pada hari tersebut aku datang, dan ternyata dia sedang duduk, sementara di hadapannya ada tali-tali dan keranjang, lalu aku berkata, “Maukah engkau bekerja untukku?” Dia menjawab, “Ya.”

Aku bertanya lagi, “Berapa upahnya?” Dia menjawab, “Satu dirham dan satu daniq.” Aku berkata, “Marilah.”

Dia pun berdiri lalu bekerja pada hari itu sepertinya bekerja tiga orang. Pada sore harinya, aku menimbangkan dua dirham dan dua daniq, dan aku ingin mengetahui apa yang ada pada dirinya.

Dia bertanya kepadaku, “Apa ini?” Aku menjawab, “Dua dirham dan dua daniq.” Dia berkata, “Bukankah telah aku katakan satu dirham dan satu daniq. Engkau telah merusak upahku, aku tidak akan mengambil sesuatu pun darimu.”

Maka aku pun menimbangkan satu dirham dan satu daniq, namun dia menolak mengambilnya ketika aku memaksanya, dia berkata kepadaku,“Subhanallah, aku telah mengatakan, aku tidak akan mengambilnya tapi engkau memaksaku.” Dia menolaknya lalu pergi.

Maka aku pun menemui istriku, dia berkata, “Allah telah melakukan terhadapmu apa yang engkau inginkan dari orang itu. Dia telah bekerja untukmu seperti bekerjanya tiga orang, tapi engkau malah merusak upahnya.”

Pada suatu hari, aku menanyakannya lalu ada yang mengatakan bahwa dia sakit. Maka aku pun minta ditunjukkan rumahnya, lalu aku mendatanginya, aku meminta izin, lalu aku masuk, ternyata dia sedang sakit perut di atas sebuah dipan.

Tidak ada sesuatu di rumahnya kecuali tali-tali dan keranjang itu. Aku memberi salam kepadanya, “Aku ada keperluan kepadamu, dan engkau tahu tentang keutamaan memberikan kegembiraan kepada seorang mukmin. Aku ingin engkau datang ke rumahku untuk aku rawat.”

Dia berkata, “Engkau mau melakukan itu?” Aku menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Aku akan datang kepadamu dengan tiga syarat.” Aku berkata, “Ya.”

Dia berkata, pertama, jangan menawarkan makanan kepadaku hingga aku menanyakannya. Aku menjawab, “Ya.” Kedua, jika aku meninggal engkau kuburkan aku dengan pakaianku ini, beserta kantongku ini. Aku menjawab, “Ya.”

Dia berkata, “Adapun yang ketiganya, “Itu lebih berat dari itu, dan nanti akan aku memberitahukannya kepadamu.”

Lalu aku pun membawanya ke rumah di waktu Zuhur. Keesokan paginya dia memanggilku, “Wahai hamba Allah.” Aku pun menghampirinya lalu aku berkata, “Ada apa?” Dia berkata, “Sekarang aku akan memberitahumu tentang keperluanku yang ketiga, dan sesungguhnya aku sudah di ambang kematianku.”

Kemudian dia berkata, “Bukalah kantong di kerah bajuku.” Aku pun membukanya, ternyata di dalamnya ada sebuah cincin bermata hijau.

Dia berkata kepadaku, “Bila aku meninggal dan engkau telah menguburkanku, maka ambillah cincin ini, dan serahkan kepada Harun Ar-Rasyid Amirul Mukminin, dan katakan kepadanya: Pemilik cincin ini mengatakan kepadamu, ‘Celakalah kamu, janganlah engkau meninggal di atas kemabukanmu ini, karena sesungguhnya jika engkau meninggal di atas kemabukanmu, maka engkau akan menyesali itu.”

Setelah aku menguburkannya, aku mencari tahu tentang hari keluarnya Harun Ar-Rasyid, lalu aku menuliskan kisah ini untuknya. Kemudian aku berusaha mencegatnya lalu menyerahkan itu kepadanya. Aku sangat kesulitan untuk itu.

Setelah dia masuk istana dan membaca kisah itu, dia berkata, “Bawakan kepadaku penulis kisah ini.” Lalu aku dihadapkan kepadanya, lalu dia berkata, “Apa keperluanmu?” Maka aku mengeluarkan cincin tersebut.

Tatkala dia melihat cincin tersebut, dia bertanya, “Dari mana engkau mendapatkan ini?” Aku menjawab, “Ini diserahkan kepada seorang lelaki yang kelaparan.”

Dia berkata, “Seorang lelaki yang kelaparan. Seorang lelaki yang kelaparan.” Aku melihat air matanya bercucuran membasahi jenggotnya, dan dari jenggotnya membasahi pakaiannya, dia berkata lagi, “Seorang lelaki yang kelaparan. Dia terus mendekatkanku kepadanya dan lebih mendekat lagi.”

Aku berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia juga berwasiat kepadaku, dan dia mengatakan kepadaku, ‘Bila engkau telah menyerahkan cincin ini kepadanya, katakan kepadanya: Sesungguhnya pemilik cincin ini menitipkan salam kepadamu, dan mengatakan kepadamu: Janganlah engkau meninggal di atas kemabukanmu ini, karena sesungguhnya jika engkau meninggal di atas kemabukanmu ini, maka engkau akan menyesal.”

Lantas dia pun berdiri, lalu menghempaskan dirinya ke atas permadani sambil berguling-guling dengan kepala dan jenggotnya, dan dia berkata, “Wahai anakku, engkau menasehatiku dalam keadaan hidup dan mati.”

Aku bergumam, “Tampaknya orang itu adalah anaknya, tapi aku tidak mengetahuinya.” Dia (Harun Ar-Rasyid) menangis lama, kemudian duduk, lalu para pelayannya membawakan air dan membasuh wajahnya.

Kemudian dia berkata, “Bagaimana engkau mengenalnya?” Lalu aku pun menuturkan kisahnya, maka dia pun menangis keras sangat lama kemudian berkata:

“Dia adalah anak pertamaku. Ayahku Al-Mahdi menyebutkan kepadaku, bahwa dia menikahkanku dengan Zubaidah. Lalu pada suatu hari aku melihat seorang wanita, lalu aku tertarik kepadanya, maka aku pun menikahinya tanpa sepengatahuan ayahku. Kemudian dia melahirkan anak ini, lalu aku mengasingkannya ke Bashrah, dan aku serahkan cincin ini dan banyak lainnya kepada mereka berdua, dan aku katakan kepada istriku itu, ‘Sembunyikan dirimu, kelak setelah aku memegang khilafah (kepala negara), datanglah kepadaku.’

Namun setelah aku memegang khilafah, aku menanyakan tentang keduanya, namun ada yang mengatakan kepadaku, bahwa keduanya telah meninggal, dan aku tidak tahu kalau ternyata dia masih hidup. Di mana engkau menguburkannya?” Aku menjawab, “Aku menguburkannya di pemakaman Abdullah bin Al-Mubarak.”

Harun Ar-Rasyid berkata, “Aku punya keperluan kepadamu. Nanti setelah maghrib, tunggulah aku hingga aku keluar menemuimu sambil menyamar menuju ke kuburannya, aku akan menziarahinya.”

Aku pun menunggunya, lalu dia keluar didampingi para pelayan di sekelilingnya, hingga dia meletakkan tangannya ke tanganku, lalu aku membawanya ke kuburan anaknya.

Sepanjang malam itu dia menangis hingga pagi, dan dia berkata, “Wahai anakku, engkau telah menasehati ayahmu dalam keadaan hidup dan mati.” Maka aku pun menangis karena tangisannya, karena aku kasihan kepadanya, hingga terbit fajar.

Kemudian dia kembali, hingga ketika hampir mencapai pintu, dia berkata kepadaku, “Aku telah memerintahkan untuk memberimu sepuluh ribu dirham, dan aku perintahkan untuk terus memberikan kepadamu. Apabila aku meninggal, aku akan wasiatkan kepada yang menjabat setelahku, agar terus memberikan pemberian kepadamu selama engkau memiliki keturunan. Karena sungguh engkau mempunyai hak atasku karena telah menguburkan anakku.”

Kemudian ketika hendak memasuki pintu, dia berkata kepadaku, “Lihatlah apa yang aku wasiatkan kepadamu saat matahari terbit.” Aku berkata, “Insya Allah.” Lalu aku pun pulang dari sisinya, dan tidak pernah kembali kepadanya. (the end)[1]



[1] Kisah ini nyata, dan terdapat dalam Kitab Tanbihul Gaafilin (Peringatan dan Nasehat bagi Orang-Orang yang Lalai). Jilid 2. Hal, 898-903. Harun Ar-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 masehi dan wafat pada tanggal 24 Maret 809, di Thus, Khurasan. Harun Ar-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah, dan memerintah antara tahun 786 hingga 803 masehi. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi.

Click to comment
To Top