Keliru Mengira Sudah Waktu Berbuka, Lalu Makan, Apakah Puasa Batal? – Catatan Pemred
Puasa

Keliru Mengira Sudah Waktu Berbuka, Lalu Makan, Apakah Puasa Batal?

sunrise
sumber foto: google image

SEGALA puji hanya kepada Allah swt. Saudaraku, mungkin di antara kita ada yang mengalami kondisi ini. Di mana seseorang atau satu keluarga mengira telah datang waktu berbuka, kemudian mereka makan, tapi belakangan diketahui ternyata belum waktunya berbuka. Bagaimakah status puasa tersebut? Apakah batal dan harus diganti? Ataukah membayar kafarat?

Ada sebuah peristiwa yang terjadi di zaman para sahabat rhadiallahuanhu, yang ditulis dalam Kitab Sahih Imam Bukhari. Kita akan memulai dari hadits ini.

Diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari Fatimah, dari Asma’ binti Abu Bakar ra, dia berkata, “Kami berbuka puasa pada masa Rasulullah saw ketika cuaca sedang mendung, kemudian matahari muncul.” Dikatakan kepada Hisyam, “Apakah mereka diperintahkan untuk mengganti puasa?” Dia berkata, “Adakah selain mengganti?” Ma’mar berkata, “Aku mendengar Hisyam berkata, ‘Aku tidak tahu apakah mereka mengganti atau tidak.” (HR. Bukhari).[1]

Hadits di atas memberitahukan bahwa ketika itu mereka mengira telah tiba waktu berbuka puasa, dikarenakan cuaca mendung. Kemudian para sahabat berbuka puasa. Tapi kemudian matahari kembali terlihat.

Namun tidak ada riwayat yang langsung dari Nabi Muhammad saw bahwa puasanya diganti, atau membayar kafarat, dan atau puasa diteruskan. Hanya saja ada riwayat dari Umar bin Khattab.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, ini adalah masalah yang diperselisihkan para ulama. Mayoritas ulama mengatakan wajib mengganti puasa. Tapi Umar bin Khattab berpendapat, tidak wajib menggantinya. (Lihat Kitab Fatul Baari Pembahasan Puasa).

Imam Malik meriwayatkan melalui jalur lain dari Umar bahwa ketika berbuka lalu matahari muncul, maka dia berkata, “persoalannya sederhana dan kita telah berijtihad.” (Lihat Kitab Fatul Baari Pembahasan Puasa).

Menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, bahwa pendapat yang mengatakan tidak perlu mengganti puasa dikemukakan juga oleh Mujahid dan Al-Hasan. Pendapat ini juga diikuti oleh Ishaq dan Ahmad dalam riwayatnya serta dipilih oleh Ibnu Khuzaimah.

Intinya begini, ada dua pendapat, bahwa mayoritas ulama mengatakan wajib mengganti puasa, sedangkan ulama lain sebagaimana di atas menyebut tidak wajib mengganti puasa. Jika sekiranya mengganti puasa itu wajib dilakukan, hal tersebut pasti telah disampaikan Rasulullah saw, dan kita menerima riwayatnya sekarang. Namun tidak ada riwayatnya. Dalam perkara ini, saya memilih pendapat tidak wajib mengganti puasa.

Ibnu Al-Manayyar berkata, hadits ini menjelaskan bahwa mukallaf (orang-orang yang dibebani kewajiban syar’i) hanya dituntut mengerjakan hal-hal yang Nampak. Apabila mereka melakukan ijtihad dan salah, maka mereka tidak berdosa.[2]

Demikian penjelasan singkat ini. Dan segala puji hanya kepada Allah swt.

———–

[1] Hadits dikutip dari Kitab Fathul Baari, Pembahasan Puasa, Imam Ibnu Hajar Al-Asqlani, Jilid 4, Hal 321.

[2] Lihat Kitab Fathul Baari, Pembahasan Puasa, Imam Ibnu Hajar Al-Asqlani, Jilid 4, Hal 322-323.

Click to comment
To Top