Kehidupan Dunia Itu Ibarat Tumbuhan (2-) – Catatan Pemred
Lautan Hikmah

Kehidupan Dunia Itu Ibarat Tumbuhan (2-)

SUMBER FOTO: id.tubgit.com

Alhamdulillahirabbil’alamin. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Yang Mahahidup lagi terus menerus makhluk-Nya. Yang Mahakaya sedangkan makhluk-Nya fakir lagi miskin. Kalau bukan karena rahmat-Nya yang mengajarkan manusia dengan perantara qalam, manusia tidak akan mengenal baca tulis.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Yang diutus dengan membawa Al-Quran yang penuh dengan hikmah, menjelaskan yang tidak diketahui, yang lalu, sekarang, dan yang akan datang. Betapah mulia Al-Quran ini, yang memberikan perumpamaan dengan bahasa yang jelas lagi terang benderang. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS. Yunus, 10 : 24).

Imam Ibnu Katsir—semoga Allah Ta’ala menyayanginya—berkata, Allah Tabarakawata’ala, membuat suatu perumapamaan, bagi indahnya kehidupan, kegemerlapannya dan cepatnya keindahan dunia tersebut berlalu atau sirna. Allah mengumpamakannya dengan tumbuhan yang Dia tumbuhkan di bumi, disebabkan adanya air yang turun dari langit. Ada tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang dikonsumsi manusia dengan beragam macam dan jenisnya, dan ada pula yang dikonsumsi hewan seperti rerumputan dan lain lain.

“Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya.” Yakni, perhiasannya yang fana (akan musnah). “Dan memakai pula perhiasannya.” Yakni, nampak keindahannya karena keluar darinya bunga-bunga yang indah dengan beragam bentuk dan warna. “Dan pemiliknya mengira.” Yakni, yang menanam dan mengurusnya, “Bahwa mereka pasti menguasainya.” Yakni pasti memanennya. Ketika seperti itu sangkaan mereka, tiba-tiba muncul petir atau angin kencang yang dingin dan kering yang menggugurkan daun-daunnya serta memusnahkan buah-buahannya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:Tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit.” Yakni menjadi kering, padahal sebelumnya hijau dan subur. “Seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.” Yakni seakan-akan tidak pernah ada sebelumnya. Qatadah berkata: “Firman Allah ‘Seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin,’ artinya seakan-akan tidak pernah bisa dinikmati. Demikian, segala sesuatu itu setelah musnahnya, maka seakan-akan tidak pernah ada. Demikian sebagian yang kami nukil dari yang disampaikan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.[1]

Sesungguhnya dari perumpamaan ini, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Di zaman sekarang, di mana perkembangan dunia yang begitu modern. Perkembangan tekhnologi, yang maju pesat, gedung-gedung tinggi nan mewah. Perkakas rumah tangga yang baik dan lengkap. Semua itu telah dibangun oleh manusia dengan izin Allah Ta’ala semata.

Semua perkembangan dan kemajuan itu jangan sekali-kali membuatmu lupa dengan Allah Ta’ala. Karena sekiranya Allah Ta’ala berkehendak, maka Dia akan mendatangkan adzab dari depanmu, atau dari belakang, dari atas atau dari bawah, secara tiba-tiba dan tanpa diberitahukan sebelumnya. Sehingga perkembangan yang telah dicapai, seakan-akan belum pernah ada sebelumnya. Seakan-akan semua perkembangan dan pencapaian itu, bagaikan tumbuhan yang telah disabit.

Ketahuilah, masing-masing zaman dengan perkembangannya. Di zaman Fira’un dengan kemajuan Mesir, dibangun Piramida dan kota dengan arsiteknya yang belum pernah dibangun sebelumnya, bahkan belum tertandingi hingga sekarang. Begitu juga kaum Samud, yang memahat batu-batu besar di lembah untuk dijadikan tempat tinggal. Mereka tidak tertandingi hingga sekarang. Dan lihat pula kerajaan Sulaiman as, kerajaan yang kokoh di mana jin dan hewan-hewan melata dikuasainya atas izin Allah Ta’ala. Sesungguhnya kerajaannya belum tertandingi hingga sekarang, bahkan lantai istananya nan megah yang dasarnya terbuat dari kaca, dan dihiasi dengan berbagai perhiasan dari permata dan mutiara yang diambil oleh jin dari dasar laut yang dalam, sampai sekarang belum tertandingi.

Namun semua perkembangan itu hanyalah tinggal puing-puing sejarah, seakan-akan belum berpenghuni sebelumnya. Ada yang berakhir karena sunnatullah yang baik, ada pula yang berakhir karena ketetapan yang buruk kepada bangsa-bangsa saat itu yang mendurhakai Allah Ta’ala dan rasul dan nabi-nabi yang diutus.

Begitu juga di zaman sekarang, perkembangan tekhnologi dan bangunan-bangunan yang belum pernah ada sebelumnya, dan tidak sama dengan perkembangan zaman terdahulu. Satu dan yang lainnya berbeda dan masing-masing tidak tertandingi dalam ukuran manusia.

Kita bisa menyaksikan, bagaimana Allah Ta’ala membinasakan bangsa-bangsa terdahulu karena kedurhakaan mereka, sehingga mereka mati bergelimpangan. Sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala berikut:

“Maka Adapun kaum Samud, mereka telah dibinsakan dengan suara yang sangat keras. Sedangkan kaum `Aad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum `Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang masih tersisa di antara mereka.” (QS.Al-Haqqah, 69 : 5-8).

Sekarang, sebagian manusia melupakan Allah Ta’ala. Mereka terbuai dengan angan-angan kosong karena kemewahan dan perkembangan dunia. Mereka berenang dalam lautan kenikmatan dunia yang fana. Seakan-akan apa yang mereka capai, akan dikuasainya. Padahal Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa.

Sesungguhnya, manusia tidak bisa menguasai apapun di muka bumi ini. Ketahuilah, bumi diciptakan untuk manusia, sedangkan manusia diciptakan untuk ahirat. Di akhirat hanya ada dua tempat bagi manusa dan jin. Tempat pertama; Surga—saya memohon kepada Allah  dengan Kemulian dan keagungan-Nya untuk keluarga dan orang-orang mukmin. Tempat kedua, adalah Neraka—Aku dan keluarga berlindung kepada Allah Ta’ala darinya. Maka jangan kamu terbuai dengan dunia, karena sekali-sekali kamu tidak dapat menguasainya.

Jika Allah Ta’ala berkehendak sebagaimana kehendak-Nya atas kaum terdahulu, maka Dia hanya mengirimkan angin, atau gelombang laut yang datang secara tiba-tiba, hingga membinasakan manusia semuanya atau sebagiannya. Lihatlah berbagai kota di belahan dunia sekarang ini, hanya dengan angin, tsunami, atau gempa bumi, meletusnya gunung merapi, maka manusia mati bergelimpangan. Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah Ta’ala lalai dari semua bencana itu.

Inilah contoh dimana manusia tidak akan menguasai apapun di muka bumi ini. Kalau bukan dunia serta apa yang sedang diusakanannya pergi meninggalkan dia, maka dialah yang akan meninggalkan dunia ini. Sesungguhnya kematian itu sesuatu yang pasti.

Yahya bin Abu Katsir berkata, bahwa Abu Bakar Ash-Siddiq ra, berkata di dalam khutbahnya: “Dimanakah orang-orang tampan, yang bagus wajahnya dan menakjubkan dengan kemudaannya? Di manakah raja-raja yang membangun kota-kota dan membentenginya dengan dinding-dinding? Dimanakah orang-orang yang diberi kemenangan di berbagai medan perang? Mereka telah dimakan zaman sehingga sekarang berada di kegelapan kubur. Cepat, cepat! Selamatkan diri, selamatkan diri!”.

Demikianlah yang dapat kami tulis. Dan segala puja dan puji hanya bagi Allah Ta’ala semata, atas segala kemudahan dan karunia-Nya kepada kami. Syukur yang tidak terbatas. (Insya Allah, bersambung).



[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Yunus, 10 : 24). Jilid 4. Hal. 391-392).

Click to comment
To Top