Kehidupan Dunia adalah Kesenangan yang Menipu (3-habis) – Catatan Pemred
Lautan Hikmah

Kehidupan Dunia adalah Kesenangan yang Menipu (3-habis)

Alhamudulillahirabbil’alamin. Lailahailallah Muhammadarrasulullah. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid, 57 : 20).

Imam Ibu Katsir—Rahimahullah—berkata, Allah swt berfirman, menetapkan hina dan rendahnya kehidupan dunia,  ” Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan ana.”Yakni kesimpulan dari perkara dunia bagi penduduknya hanyalah ini.[1] Sebagaimana firman Allah swt:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga).” (QS. Ali-Imran, 3: 14).

Selanjutnya Allah swt menggambarkan perumpamaan kehidupan dunia bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kesenangan yang fana dan kenikmatan yang pasti lenyap. Karena itu Allah swt berfirman: “Seperti hujan.” Yaitu hujan yang datang setelah manusia merasa putus asa terhadap kehadirannya, sebagaimana Allah berfirman, “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka putus asa. Da menyebarkan rahmat-Nya. (QS. Asy-Syuura: 28).[2]

Firman Allah swt, “Yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani.” Yaitu, tumbuhnya tanaman oleh hujan yang mengundang kekaguman para petani. Sama halnya dengan orang-orang kafir yang menganggumi kehidupan dunia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling berambisi terhadap dunia dan paling cenderung kepadanya.[3]

Firman Allah swt: “Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.” Padahal sebelumnya tampak hijau dan segar. Demikian pula kehidupan dunia, pada mulanya kelihatan muda lalu tumbuh menjadi dewasa dan menua akhirnya pikun dan renta. Demikianlah manusia, yang pada mulanya terlihat muda, segar, padat, berisi serta berpenampilan menawan. Kemudian secara berangsur-angsur dia memasuki usia paruh baya. Wataknya berubah dan sebagian kekuatannya hilang. Kemudian dia menjadi tua, kekuatannya lemah, sedikit gerakannya dan tidak mampu lagi mengerjakan sesuatu yang remeh sekalipun.[4] Allah swt berfirman.

“Allah, Di-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) itu sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki-Nya dan Dia-lah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54).

Ibnu Katsir berkata, perumpamaan ini menunjukkan bahwa dunia ini pasti akan lenyap, hancur dan habis. Sebaliknya, negeri akhirat itu pasti dan kekal. Maka Allah swt memberikan peringatan kepada manusia agar berhati-hati dalam menghadapi dunia. Allah swt menganjurkan untuk berbuat kebaikan, yang akan membawa pahala di negeri akhirat nanti.[5]

Allah Ta’ala berfirman: “Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” Akhirat itu akan datang dalam waktu dekat. Tidak ada pilihan lain di sana kecuali dua keadaan. Jika bukan siksaan yang keras (kita berlindung kepada Allah swt darinya), maka ampunan dan keridhaan-Nya.[6]

Firman Allah swt: “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” Yaitu, kesenangan yang fana lagi memperdayakan orang yang cenderung kepedanya. Orang semacam ini terperdaya dan merasa kagum terhadap dunia, hingga berkayakinan bahwa tidak ada kehidupan lain selain kehidupan ini. Dia menyangka bahwa selain itu tidak ada kehidupan lain, tidak pula hari kebangkitan. Padahal kehidupan dunia ini amatlah hina dan rendah bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat.[7]

Dan segala puja dan puji hanya bagi Allah Ta’ala, atas karunia dan kemudahan yang diberikan kepada kami, dalam menulis ini. Tiada daya dan upaya, kecuali datang dari Allah Ta’ala. (selesai).


[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Hadiid, 57: 20). Jilid 8. Hal. 786.
[2] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Hadiid, 57: 20). Jilid 8. Hal. 786.
[3] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Hadiid, 57: 20). Jilid 8. Hal. 787.
[4] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Hadiid, 57: 20). Jilid 8. Hal. 787..
[5] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Hadiid, 57: 20). Jilid 8. Hal. 787.
[6] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Hadiid, 57: 20). Jilid 8. Hal. 788.
[7] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Hadiid, 57: 20). Jilid 8. Hal. 788.

Click to comment
To Top