Jiwa Anda Gelisah dan Tidak Tenang? Bacalah Ini – Catatan Pemred
Lautan Hikmah

Jiwa Anda Gelisah dan Tidak Tenang? Bacalah Ini

hadiah wali

SEGALA puji hanya kepada Allah. Wahai saudaraku, sesungguhnya jiwa dan jasad itu berbeda. Sehingga kebutuhan dua zat ini juga berbeda.

Jiwa adalah roh, atau juga disebut nafs. Jiwa atau roh diciptakan dari langit. Maka kebutuhan jiwa juga berasal dari langit. Jiwa tidak mengkonsumsi sesuatu dari bumi. Dia akan menolaknya. Maka itulah Allah mengutus para Rasul, menurunkan wahyu, untuk kebutuhan jiwa.

Adapun jasad atau tubuh manusia, berasal dari bumi. Dari tanah. Maka segala sesuatu mengenai kebutuhannya, juga berasal dari bumi. Misalkan, makanan, pakaian, rumah, mobil dan lainnya.

Jika seseorang memenuhi kebutuhan jiwanya dengan sesutu yang berasal dari dunia, maka ketahuilah bahwa kebutuhan jiwanya tidak bisa terpenuhi dengan apa yang disuguhkan. Jiwa akan menolaknya. Karena memang bukanlah makanannya. Sekali lagi, kebutuhan jiwa itu adalah sesuatu yang bersumber dari langit. Bukan dari bumi.

Apabila manusia mengaku jiwanya tenang, karena mendengar musik[1]. Atau jiwanya tenang, karena baru saja memiliki rumah mewah dengan fasilitas full service. Atau dia mengaku jiwanya tenang karena baru saja memiliki mobil baru, naik jabatan, maka sesungguhnya dia sedang tertipu dengan inderanya.

Ketenangan yang terpancarkan sebagaimana diakibatkan oleh benda-benda bumi tadi, adalah ketenangan yang fana. Bukanlah termasuk hakikat ketenangan jiwa yang dimaksudkan. Bahkan itu bukanlah ketenangan, melainkan gejolak atas jiwanya.

Misalkan orang yang mendengar musik, kemudian berkesimpulan bahwa jiwanya menjadi tenang, coba dirasakan ulang lagi dengan akal sehat, sesungguhnya itu bukanlah ketenangan jiwa, melainkan jiwa berada dalam hayalan. Atau jiwa bergejolak. Karena memang bukan kebutuhannya.

Ada orang yang tertimpa masalah, kemudian dirinya mendengar musik, tiba-tiba setelah mendengarnya dia memutuskan membunuh diri. Sesungguhnya, orang yang tertimpa masalah akan mengguncang jiwa, karena otaknya bekerja, jantungnya, persaannya pun hanyut.

Jika seseorang berada dalam tekanan seperti ini, kemudian menyuguhkan jiwanya dengan suguhan duniawi, seperti musik, dugem, pergi ke tempat hiburan, maka dipastikan dirinya tidak mendapat ketenangan sedikit pun. Jika dia mengaku mendapat ketenangan, maka sesungguhnya bisikan syaitan telah merasuki jiwanya. Dan memperdayainya dengan kepalsuan. Allah swt berfirman:

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Jelas sekali Firman Allah swt di atas, bahwa Allah swt menurunkan ketenangan dari langit ke dalam hati orang-orang mukmin. Supaya keimanan mereka bertambah, di samping keimanan mereka yang sebelumnya telah bersemayam di dalam jiwa mereka.

Ketenangan itu tidak datang dengan sendirinya, tapi ada sebabnya. Di sini ada hukum kausalitas. Jika seseorang mendekatkan diri kepada Allah swt dan tetap di jalan-Nya dan Rasul-Nya yang lurus, maka Allah swt akan memberikan ketenangan di dalam dada mereka. Sehingga jiwa mereka menjadi tenang. Tidak bergejolak, lantaran ammarah. Allah swt berfirman:

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah, 9; 26).

Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-Fath, 48; 18).

Ketenangan jiwa itu hanya akan diperoleh dengan sesuatu yang diturunkan dari langit. Rasulullah saw bersabda: Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh salah seorang sahabat dan berkata : “Wahai Rasulullah, di saat aku membaca surat Al Kahfi ketika itu turun kabut dari langit, apakah itu wahai rasulullah??”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ itu adalah para malaikat yang turun dari langit berupa ketenangan karena bacaan Al qu’ran yang dibaca di muka bumi”.

Saat seseorang membaca Al-Quran, maka ketenangan akan turun dari langit kepadanya. Karena sesungguhnya Al-Quran itu dari langit. Dari Allah swt kepada manusia. Begitu juga shalat, puasa, zakat, anjuran sadaqah, dan lainnya. Merupakan perintah-perintah dari langit.

Menjadi jelaslah bahwa ketenangan kepada jiwa manusia itu dari langit. Jika ada manusia yang mangaku merasa memperoleh ketenangan jiwanya dari dunia, maka ketahuilah dunia ini fana. Tidak ada ketenangan jasad atau badan, melainkan kestabilan. Sedangkan kestabilan jasad atau raga dipengaruhi oleh ketenangan jiwa.

Allah swt menurunkan ketenangan kepada orang-orang pilihan-Nya, yang selalu berada di jalan yang lurus, memegang teguh Al-Quran dan Sunnah. Di man orang-orang itu memahami betul, bahwa dunia ini hanyalah samudera yang penuh gelombang, dan mereka mengarunginya dengan bahtera amal perbuatan mereka, menuju lautan kenikmatan yang kekal. Dan segala puji hanya kepada Allah. (***)

—————-

[1] Rasulullah saw bersabda, “Pasti akan ada di antara kaumku yang menghalalkan zina, sutra (bagi laki-laki), dan alat musik.” Hadis Sahih. Riwayat Imam Abu Daud (Dikutib dr Kitab Buku Putih Ihya Ulumudin Imam Al Ghazali oleh Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi).

Click to comment
To Top