Cinta Istri Sang Raja Berbuah Petaka – Catatan Pemred
Kisah

Cinta Istri Sang Raja Berbuah Petaka

love
sumber foto: google image

WADLAH Al-Yaman dibesarkan bersama dengan Umm Al-Banin. Akhirnya kedua anak itu saling mencintai satu sama lain. Wadlah benar-benar tidak mampu menahan rasa cintanya.

Ketika Umm Al-Banin telah mencapai usia akil baligh, dia harus mengenakan cadar di hadapannya. Kenyataan ini membuat keduanya begitu tersiksa.

Sampai pada suatu ketika Khalifah (pimpinan negara) Al-Walid bin Abdul Malik menunaikan ibadah haji. Dia mendengar cerita tentang kecantikan Umm Al-Banin dan kecerdasan yang dimilikinya. Dia langsung meminang Umm Al-Banin dan memboyongnya ke negeri Syam—pusat kekhalifahan ketika itu.

Mendengar berita tersebut, Wadlah seakan-akan menjadi orang gila. Dia sangat merana dan fisiknya menjadi sangat kurus.

Ketika penderitaan yang dialaminya cukup lama, dia memutuskan untuk berkunjung ke Syam. Setiap hari dia berkeliling di istana Al-Walid bin Abdul Malik. Dia tidak menemukan cara untuk bisa bertemu dengan Umm Al-Banin.

Sampai pada suatu ketika, dia melihat seorang pelayan wanita yang berkulit kuning. Dia menghampiri dan bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengenal Umm Al-Banin?” Pelayan itu menjawab, “Sesungguhnya kamu telah menanyakan majikan perempuanku.”

Wadlah berkata, “Dia itu adalah anak perempuan pamanku. Dia akan merasa sangat senang jika bisa melihat dan bertemu denganku. Apakah kamu mau memberitahu tentang keberadaanku di sini?” Pelayan perempuan itu berkata, “Aku akan memberitahukan keberadaanmu kepadanya.”

Pelayan itu pun masuk ke dalam istana untuk memberitahukan keberadaan Wadlah kepada majikannya, Umm Al-Banin. Mendengar Wadlah ada di luar istana, dia berkata, “Celaka, apakah dia masih hidup?” Pelayan itu berkata, “Iya, benar.”

Umm Al-Banin berkata, “Tolong katakan kepadanya supaya tetap di tempat sampai datang seorang utusan dariku.”

Maka Umm Al-Banin mencari akal supaya bisa memasukkan Wadlah di dalam istananya. Dia menemukan sebuah ide untuk memasukkannya ke dalam sebuah peti, sehingga dia akan bisa tinggal bersamanya untuk beberapa waktu lamanya.

Jika keadaan di sekitar kelihatan aman, dia akan mengeluarkan Wadlah agar bisa duduk bersamanya dan mengobrol. Namun apabila keadaannya merasa kurang aman dari pengawasan mata-mata, dia akan memasukkannya kembali ke dalam peti.

Pada suatu hari Al-Walid bin Abdul Malik diberi hadiah permata yang sangat indah. Maka dia berkata kepada salah seorang pelayannya, “Ambillah batu permata ini dan berikan kepada Umm Al-Banin. Katakan kepadanya bahwa permata ini dihadiahkan seorang kepada Amirul Mukminin, kemudian Amirul Mukminin mempersembahkan permata ini kepada anda.”

Pelayan itu pun menuju ruangan Umm Al-Banin dan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pelayan itu secara sepintas menyaksikan Wadlah sedang duduk berbincang bersamanya. Wadlah sempat melihat ada pelayan yang akan masuk, sedangkan Umm Al-Banin tidak menyadari akan hal itu. Oleh karena itu dia bergegas masuk ke dalam peti.

Pelayan itu langsung memberikan surat Amirul Mukminin kepada Umm Al-Banin sambil berkata, “Berilah aku satu batu permata saja.” Umm Al-Banin berkata, “Kurang ajar, berani sekali dirimu.”

Pelayan itu keluar dengan persaan sangat jengkel kepada Umm Al-Banin. Dia langsung menghadap Al-Walid untuk mengadukan kejadian yang baru saja dia saksikan, yakni ada seorang lelaki di dalam sebuah peti yang terdapat di dalam ruang istrinya.

Pelayan itu menggambarkan dengan jelas ciri-ciri peti yang dibuat sembunyi oleh lelaki yang sempat dilihatnya tersebut. namun Al-Walid berkata kepada pelayan tersebut, “Engkau telah berbohong, celakalah dirimu.”

Al-Walid langsung beranjak dari tempatnya dan bergegas masuk ke dalam ruangan Umm Al-Banin. Memang benar bahwa di dalam ruangan tersebut banyak sekali terdapat peti.

Maka Al-Walid secara diam-diam mengamati peti yang disebutkan ciri-cirinya oleh pelayannya dan langsung duduk di atas peti tersebut. Dia berkata kepada istrinya, “Wahai Umm Al-Banin, berikan petimu kepadaku!” Umm Al-Banin menjawab, “Wahai Amrul Mukminin, sesungguhnya peti itu berisi perhiasan pribadi kaum wanita.”

Al-Walid berkata, “Tidak mengapa, aku tidak menginginkan peti yang lainnya.” Umm Al-Banin akhirnya berkata, “Baiklah ambillah peti tersebut untukmu.”

Al-Walid memerintahkan para pelayannya untuk mengusung peti tersebut. Setelah itu dia memerintahkan dua orang pelayannya untuk menggali sebuah sumur. Dan apabila mereka telah melihat sumber mata airnya, maka mereka diperintahkan untuk memendam peti itu di dalamnya.

Kemudian Al-Walid berkata, “Wahai peti, sebenarnya aku telah menerima sebuah informasi tentang keberadaanmu. Apabila kabar tersebut akurat, maka aku akan mengubur dan melupakan kabar buruk tersebut. Akan tetapi apabila ternyata berita itu tidak benar, maka berarti aku hanyalah menanam peti kayu dan sama sekali tidak ada dosa bagiku.”

Setelah peti itu diletakkan di dalam galian sumur, Al-Walid memerintah kedua orang tersebut untuk menimbun lubangnya dengan tanah kembali. Lantas keduanya meratakan lobang galian itu sampai akhirnya rata dengan permukaan tanah.

Sedangkan Umm Al-Banin dijumpai sedang menangis di ruangannya. Sehingga pada suatu hari dia telah diketemukan tertelungkup dalam keadaan tidak bernyawa lagi. (the end).[1]

————————————

[1] Ini adalah kisah nyata yang terdapat dalam dalam Kitab Dzamm Al-Hawa (Belenggu Nafsu) karya Imam Ibnu Jaizu. Kisah ini juga memiliki riwayat yang lain, akan tetapi kisah versi ini menyebutkan bahwa Khalifah yang berkuasa pada saat itu, Yazid bin Abdul Malik.

Click to comment
To Top