Celaan Terhadap Orang yang Kikir – Catatan Pemred
Lautan Hikmah

Celaan Terhadap Orang yang Kikir

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji hanya kepada Allah, Rabb Yang Maha Pengasih; yang memberikan rezeki kepada muslim maupun kafir, mukmin maupun munafik. Allah, Rabb Yang Maha Kaya, Pemilik Jagad Raya, tapi orang-orang kafir mendustakan-Nya. Meskipun begitu Rabbku Maha Penyabar melebihi segala yang penyabar.

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad yang tercinta, keluarganya yang mulia, dan para sahabat, betapa rindunya daku pada mereka.

Allah, Rabb Maha Pengasih, Maha Baik, namun sebagian manusia begitu kikir terhadap apa yang ada di genggamannya. Padahal semuanya itu milik Allah Ta’ala yang hanya dititipkan kepada hamba-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

“Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari Al-Quran)? Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan).” (QS. An-Najm, 53: 33-35).

Ayat yang mulia penuh hikmah ini berkaitan dengan orang yang kikir atau bakhil terhadap hartanya. Ia memberi dengan pemberian yang sedikit kemudian tidak mau memberi lagi, karena kekhawatirannya akan jatuh miskin atau kekurangan harta.

Ibnu Abbas ra, berkata, “Yakni memberi sedikit, kemudian tidak memberi lagi.” Seperti itu juga dikatakan oleh Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, Qatadah dan lainnya. Ikrimah dan Said berkata, “Seperti perumpamaan orang yang menggali sumur; pada saat mereka menemukan batu besar yang menghalang penggalian itu, mereka berkata, ‘Kami tidak mau lagi (menggali).’ Mereka pun meninggalkan penggalian itu.”[1]

Firman Allah swt; “Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan).” Maksudnya, apakah orang yang kikir dan tidak mau berinfak serta memutuskan kebajikan itu memiliki ilmu ghaib, bahwa kelak apa yang ditangannya akan habis? Lalu (dengan ilmunya itu) dia tidak mau berbuat kebajikan lagi. Apakah dia telah melihat hal itu dengan mata kepalanya sendiri? Pada kenyataannya tidaklah demikian. Alasan dia tidak mau bershadaqah, berbuat baik dan memberikan santunan serta silaturahim adalah semata-mata karena kekikiran, kebakhilan dan ketakutan pada dirinya.[2] Oleh karena itu disebutkan dalam hadits:

“Infakkanlah hai Bilal, janganlah kamu takut sedikitnya (karunia)  dari Yang Mempunyai ‘Arsyi.” (Ath-Thabrani: X/191) disahihkan oleh oleh Syaikh Al-Albani dalam Sahihul Jami’ No 1512.[3]

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

“Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi Reziki yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Saba’ 34: 39).

Demikian penjelasan kami. Dan segala puji hanya kepada Allah, Rabb semesta alam. Yang Maha Baik, di sisi-Nya terdapat perbendaharaan segala sesuatu. Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang diberi pandangan. (*)

———–

[1] Sahih Tafisr Ibnu Katsir (Peneliti: Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. An-Najm, 53:  33-34. Jilid 8, hal 615.

[2] Sahih Tafisr Ibnu Katsir (Peneliti: Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. An-Najm, 53:  33-34. Jilid 8, hal 615.

[3] Sahih Tafisr Ibnu Katsir (Peneliti: Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. An-Najm, 53:  33-34. Jilid 8, hal 615. [Hadits dan status derajatnya di atas dikutib dari Sahih Tafsir Ibnu Katsir].

Click to comment
To Top