Begini Proses Keluarnya Roh dari Tubuh – Catatan Pemred
Lautan Hikmah

Begini Proses Keluarnya Roh dari Tubuh

Alhamdulillahirabbil’alamin. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Allah, Rabb semesta alam, Yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Andai saja bukan karena Rahmat dan Kasih Sayang-Nya, orang-orang mukmin tidak akan masuk surga.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Nabi yang mulia, yang dengan lisannya Allah Ta’ala menerangkan yang ghaib, dengan keterangan-keterangan yang terang benderang. Dengan lisannya pula Allah Ta’ala menerangkan kepada manusia dan jin serta apa yang di bumi, tentang perkara-perkara yang akan terjadi di alam kubur. Maka aku dan keluargaku berlindung kepada Allah Ta’ala dari fitnah dunia, fitnah kubur, fitnah dajjal. Ya Allah kami berlindung kepada-Mua dari sempitnya tempat berdiri di Hari Kiamat, dan janganlah Engkau membiarkan kami berenang dalam linangan keringat kami sendiri. Sesungghnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkau Mahakaya, dan kami miskin. Engkaulah pemilik segala perbendaharaan jagad raya, sedangkan kami fakir. Engkau-lah Yang Mahabesar, dan kami kecil. Sesungguhnya Engkau Mahakuat, dan kami lemah.  Engkau-lah Rabb kami, dan kami adalah hamba-Mu ya Allah.

Shalawat dan salam saya ucapkan kepada Rasulullah yang mulia. Yang mana Allah memujinya dalam Kitabullah, bahwa beliau saw berbudi pekerti yang luhur. Suri teladan yang baik. Juga kepada keluarganya yang saya cintai. Kepada generasi emas ummat ini, yakni para sahabat dan keluarganya, semoga Allah Ta’ala meridhai mereka. Juga kepada seluruh ulama, dan kaum muslimin, semoga kita tetap berada dalam jalan yang lurus.

Dari Al-Minhal bin Amr, dari Al Bara bin Azib ra, dia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah saw untuk menghadiri jenazah seorang lelaki dari golongan Anshar. Lalu kami sampai ke kuburan, namun belum dibuatkan liang lahad, maka Nabi saw duduk, dan kami pun duduk di sekitar beliau. Lalu seakan-akan di atas kepala kami ada burung (yakni menunduk), sementara tangan beliau memegang batang yang beliau goreskan ke tanah, yakni mengorek-ngorek tanah dengannya, lantas beliau mengangkat kepalanya dan bersabda:

“Mohonlah kalian perlindungan kepada Allah dari adzab kubur.” Beliau mengucapkannya dua kali atau tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang beriman itu, apabila tengah mendapati akhirat dan terputus dari dunia, turunlah kepadanya para malaikat dengan wajah putih, seakan-akan wajah mereka adalah matahari. Mereka membawa kafan dari kafan-kafan surga, dan hanuth (ramuan yang diletakkan pada mayat agar tidak rusak) dari hanuth-hanuth surga. Lalu mereka duduk di dekatnya hingga sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga dia duduk di dekat kepalanya, lalu malaikat maut berkata, ‘Wahai jiwa yang tenang, keluarlah engkau menuju ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya.’ Lantas jiwa itu pun keluar, lalu ia mengalir seperti mengalirnya tetesan dari wadah air, lalu para malaikat mengambilnya. Mereka tidak membiarkannya di tangan malaikat maut walau hanya sekejab mata, hingga mereka membawanya dan menempatkannya pada kafan dan hanuth itu. Lalu keluar darinya seperti aroma misik yang paling wangi yang ada di muka bumi, para malaikat itu pun membawanya naik. Tidaklah mereka membawanya dengan melewati sekumpulan malaikat kecuali mereka berkata ‘Ruh siapa yang wangi ini?’ Para malaikat yang membawanya pun menjawab ‘Fulan bin Fulan’, dengan sebutan sebaik-baik namanya. Kemudian mereka membawanya sampai ke langit dunia, lalu para malaikat meminta dibukakan untuknya, maka dibukakanlah untuk mereka, lantas jiwa itu pun disambut dan dipersilahkan oleh malaikat yang ada di setiap langit, dari langit terdekatnya hingga kepada yang berikutnya, hingga mereka sampai ke langit yang ketujuh. Lalu Allah Ta’ala berfirman: Tuliskanlah catatan amalnya di dalam Iliyyin, dan kembalikanlah dia ke bumi. Dari bumilah Aku menciptakan manusia, ke dalamnya Aku akan mengembalikan mereka lagi.’ Ruh itu pun dikembalikan ke dalam jasadnya. Lalu datanglah dua malaikat lantas keduanya bertanya kepadanya, Siapa Rabbmu?’ Dia menjawab, ‘Rabbku adalah Allah.” Kedua malaikat itu bertanya lagi kepadanya, ‘Apa agamamu?’ Dia menjawab ‘Agamaku Islam’. Kedua malaikat itu bertanya lagi kepadanya, ‘Apa yang engkau katakan mengenai orang yang diutus kepada kalian ini?’ Dia menjawab, ‘Beliau adalah utusan Allah swt.’ Kedua malaikat itu berkata lagi kepadanya, ‘Apa pengetahuanmu?’ Dia menjawab, Aku membaca Kitabullah Ta’ala, beriman kepadanya dan membenarkannya.’ Lantas berserulah penyeru: ‘Hamba-Ku benar, maka hamparkanlah untuknya hamparan dari surga, kenakanlah kepadanya pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu ke surga.’ Lalu sampailah kepadanya aroma surga dan wewangiannya, dan dilapangkan untuknya di dalam kuburnya sejauh pandangan matanya. Kemudian datang kepadanya seorang lelaki dengan wajah tampan dan beraroma wangi, lalu dia berkata, ‘Bergembiralah engkau dengan apa yang menyenangkanmu. Inilah harimu yang dijanjikan kepadamu.’ Dia bertanya, ‘Siapa engkau?’ Lelaki itu menjawab, ‘Aku adalah amal shalihmu.’ Lantas dia pun berkata, ‘Wahai Rabbku, bangkitkanlah Kiamat hingga aku bisa kembali kepada keluargaku dan pelayanku.”

Nabi saw melanjutkan, “Sesungguhnya seorang hamba yang kafir, apabila dia menghadapi akhirat dan terputus dari dunia, turunlah kepadanya para malaikat dari langit dengan wajah hitam, mereka membwa pencoreng, lalu duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut, hingga duduk di dekat kepalanya, lalu malaikat maut berkata, ‘Keluarlah engkau wahai jiwa yang buruk. Keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.’ Lantas rohnya terpencar ke seluruh tubuhnya, lalu malaikat maut mencabutnya jiwanya sebagaimana dicabutnya duri dari kain wol yang basah, sehingga putuslah urat-urat dan otot-otot, lalu dia mengambilnya. Setelah mengambilnya, para malaikat tidak membiarkannya di tangan malaikat maut walau hanya sekejab mata, hingga para malaikat itu menempatkannya di pencoreng, lalu keluarlah bau bangkai yang paling busuk darinya. Kemudian para mailat membawanya naik, tidaklah mereka membawanya melewati sekumpulan malaikat kecuali mereka bertanya, ‘Ruh busuk siapa ini?’ Para malaikat yang membawanya menjawab, ‘Fulan bin Fulan,’ dengan seburuk-buruk namanya. Hingga mereka membawanya ke langit dunia, lalu mereka meminta dibukakan, namun tidak dibukakan untuknya.”

Kemudian Rasulullah saw membaca, “Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk lubang jarum.” (QS. Al-A’raaf, 7: 40). “Kemudian Allah Ta’ala berfirman, ‘Tuliskan catatan amalnya di dalam sijjin.’ Kemudian ruhnya dihempaskan.’ Kemudian beliau saw membaca, “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah dia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj, 22: 31). Yakni, ditolak lalu dikembalikan ke dalam jasadnya. Kemudian dia didatangi oleh dua malaikat, lalu keduanya mendudukannya, lantas bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu’ Dia menjawab, ‘Hah, aku tidak tahu.’ Kedua malaikat itu bertanya lagi kepadanya, ‘Apa agamamu?’ Dia menjawab ‘Hah, aku tidak tahu.’ Kedua malaikat itu bertanya lagi kepadanya, ‘Apa yang engkau katakan mengenai orang yang diutus kepada kalian itu?’ Dia menjawab, ‘Hah, aku tidak tahu.’ Lalu berserulah penyeru dari langit, ‘Hamba-Ku telah berdusta, maka hamparkanlah untuknya dari hamparan neraka.’ Maka masuklah panas dan angin panasnya ke dalamnya, serta kuburannya disempitkan, hingga rusuk-rusknya saling bersilang. Lalu datanglah kepadanya lelaki dengan wajah buruk, pakaian buruk dan aroma yang busuk, lalu lelaki itu bertanya, ‘Bergembiralah engkau dengan yang akan menjadi keburukan bagimu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu.’ Dia bertanya, ‘Siapa engkau?’ Lelaki itu menjawab, ‘Aku perbuatan burukmu.’ Dia berkata, ‘Wahai Rabbku, janganlah engkau bangkitkan Kiamat. Wahai Rabbku, janganlah Engkau bangkitkan kiamat.”[1] (HR. Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah (3/104).

Imam Abu Al-Laits As-Samarqandi berkata: Barangsiapa yang ingin selamat dari adzab kubur, maka hendaklah dia membiasakan empat hal, dan menjauhi empat hal: adapun keempat hal yang harus dibiasakan adalah: Memelihara shalat, sedekah, membaca Al-Quran dan banyak bertasbih, karena sesungguhnya empat hal ini akan menerangi kuburan dan melapangkannya.

Adapun keempat hal yang harus dijauhinya adalah: berbohong, khianat, menghasut, dan kencing (tanpa menghindar dari najisnya).[2]

Jika seseorang mengamalkan empat hal amalan baik sebagaimana disampaikan oleh Imam As-Samarqandi, sedangkan orang tersebut juga melakukan syirik kepada Allah Ta’ala, maka hal tersebut sama saja (sia-sia). Amalannya itu akan menjadi sia-sia belaka, karena Allah tidak mengampuni dosa syirik, maka dia akan tetap mendapatkan siksa kubur. Allah Ta’ala berfirman sebagaimana hadis di atas: “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah dia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj, 22: 31).

Salah satu bentuk kesyirikan adalah, berdoa di kuburan orang sholeh atau siapa saja untuk meminta berkah dari orang yang sudah meninggal tersebut. Ketehuilah, yang memberikan keberkahan itu hanyalah Allah Ta’ala, apakah anda tidak mengambil pelajaran dari ucapan salam yang setiap hari atau sering diucapkan?

Sebagian orang-orang yang pemahaman agamnya rendah, yang belakangan ini banyak terjadi, mereka mendatangi kuburan-kuburan untuk meminta keberkahan. Mereka bahkan memasang tenda-tenda di kuburan untuk bermalam berhari-hari di kuburan meminta berkah. Ini syirik yang paling nyata. Dan ini bukan wasilah. Karena sesungguhnya beribadah sesuai tuntunan Al-Quran dan as-Sunnah adalah alat yang mestinya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, itulah washilah, mendekatkan diri melalui ibadah, bukan melalui perantara orang yang sudah meninggal. Orang yang sudah meninggal tidak mengetahui sesuatu pun kejadian di muka bumi. Dia justru mengharapkan doa atau amal jariyahnya. Maka bagaimana mungkin manusia yang masih hidup berwasilah dengan orang yang sudah meninggal. Tidak ada satu pun dalil yang membenarkan perkara ini, juga tidak bisa diterima oleh akal sehat. Maka ambillah pelajaran wahai manusia yang diberi akal. Dan segala puja dan puji hanya kepada Allah Ta’ala.


[1] Hadis Sahih menurut catatan kaki yang terdapat dalam Kitab Tanbih Al-Ghafilin, Imam Abu Al-Laits As-Samarqandi dengan tahqiq Sayyid Al-Arabi. Hadis dikutib dari Kitab Tanbih Al-Ghafilin Hadis No 32. Bab Dahsyatnya dan Beratnya Kematian, hal. 79-83.

[2] Kitab Tanbih Al-Ghafilin, Imam Abu Al-Laits As-Samarqandi dengan tahqiq Sayyid Al-Arabi, Bab Dahsyatnya dan Beratnya Kematian, hal. 87.

Click to comment
To Top