Bahaya Bawang Merah Menurut Ulama – Catatan Pemred
Kesehatan

Bahaya Bawang Merah Menurut Ulama

bawang merah
sumber foto: google image

SEGALA puji hanya kepada Allah. Seorang ulama terkemuka, yaitu Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (1292-1350 Masehi) dalam salah satu karyanya yang fenomenal berjudul Zadul Ma’ad, menjelaskan panjang lebar tentang Pengobatan Ala Nabi Muhammad saw.

Nah, salah satu yang dibahas adalah bawang merah. Ada banyak khasiat yang terdapat dalam tumbuhan ini.

Menurutnya, bawang merah mempunyai temperamen panas pada tingkat ketiga. Ia mempunyai kelembaban tambahan yang bermanfaat untuk perubahan air, mencegah bau racun, mencegah nafsu syahwat, memperkuat lambung, menggerakkan ingatan, menambah sperma, membuat indah warna.

Selain itu juga dapat menghentikan dahak berlendir, dan membersihkan lambung. Benihnya menghilangkan penyakit kulit berwarna putih karena kehilangan pigmen. Dapat digosokkan untuk mengobati penyakit kulit dan sangat bermanfaat.

Kata Imam Ibnu Qayyim, apabila dicampur dengan garam maka dapat menghilangkan kutil. Bawang merah yang dimasak lebih banyak vitaminnya, dan bermanfaat untuk mengobati penyakit jamur dan kuning ataupun batuk, kekasaran dada, melancarkan kencing, dan melembutkan watak.

Selain itu ia bermanfaat untuk mengobati gigitan anjing apabila airnya dilapiskan dengan campuran garam dan tanaman yang berbau wangi. Pun, bermanfaat untuk mengobati penyakit wasir.[1]

Namun, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bagi kesehatan. Apalagi jika mengkonsumsinya berlebihan tanpa dimasak terlebih dahulu.

Imam Ibnu Qayyim mengatakan, bahaya bawang merah dapat menimbulkan migran, membuat pusing, meniumbulkan kentut. Terlalu banyak memakannya mengakibatkan pelupa, merusak akal, membuat bau mulut tidak sedap, dan mengganggu teman duduk dan malaikat. Jika dimakan dengan cara dimasak maka semua bahaya ini dapat dihilangkan.[2]

Rasulullah saw bersabda tentang bawang putih dan bawang merah: “Barangsiapa memakan keduanya, maka hendaklah ia mematikannya dengan memasaknya.” (HR Muslim, No 567, Ibnu Majah 1014 dan 3363, An-Nasai dan HR Ahmad.

Demikian penjelasan singkatnya, dan segala puji hanya kepada Allah Ta’ala.

———-

[1] Zadul Ma’ad Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Al-Kautsar, 1999. Jilid 4, Hal. 332.

[2] Zadul Ma’ad Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Al-Kautsar, 1999. Jilid 4, Hal. 332.

 

Click to comment
To Top