Bagaimana Islam Memandang Posisi Bercinta? – Catatan Pemred
Adab

Bagaimana Islam Memandang Posisi Bercinta?

SEGALA puji hanya kepada Allah. Yang kita bahas adalah hubungan suami istri. Sesungguhnya Islam sangat memperhatikan hubungan senggama. Dan tidaklahlah tabu. Sehingga perkara ini dibahas secara detail dalam agama. Bahkan ayat Al-Quran turun terkait dengan gaya atau posisi senggama. Berikut bunyinya:

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tamammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah, 2: 223).

Ada beberapa hadits yang menyampaikan tentang sebab-sebab turunnya ayat ini. Kami mencoba mengutipnya sebagaimana berikut.

Dari Ummu Salamah, ia mengatakan, “Ketika kaum Mujahirin datang ke Madinah kepada kaum Anshar, kaum Muhajirin menikah dengan para wanita Anshar. Dulu kaum Muhajirin biasa menunggingkan isteri (menggauli dari arah belakang), sedangkan kaum Anshar tidak. Ketika seorang lelaki dari golongan Muhajirin hendak melakukan itu pada istrinya (dari golongan Anshar), wanita itu menolak, hingga ia bertanya kepada Nabi saw. Lalu wanita itu mendatangi beliau, namun ia malu untuk menanyakannya, maka Ummu Salamah menanyakannya, lalu turunlah ayat, ‘Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tamammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah, 2: 223). Dan beliau bersabda tidak boleh kecuali pada qubul (kemaluan).” (HR Ahmad).

Maksudnya adalah, boleh dengan gaya atau posisi dari belakang dan tetap berhubungan melalui kemaluan, bukan dubur. Karena dubur hukumnya haram.

Adapun hadits lainnya adalah dari Ibnu Abbas, ia menuturkan, “Umar datang kepada Rasulullah saw lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah binasa.’ ‘Tadi malam aku membalikkan tungganganku (yakni istrinya).’ Namun beliau tidak mengatakan apa-apa. Kemudian Allah mewahyukan kepada Rasul-Nya ayat ini, ‘Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tamammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah, 2: 223). (Lalu beliau bersabda), ‘Boleh dari depan boleh dari belakang, tapi hindari dubur dan haid.’” (HR. Ahmad dan At-Tarmidzi, dan ia mengatakan, ‘hadits Hasan gharib).

Dalam Hadis Sahih Muslim, diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir bin Abdullah, “Bahwasanya kaum Yahudi biasa mengatakan bila seorang perempuan digauli dari arah belakang pada liang kemaluannya kemudian ia hamil maka anak yang lahir menjadi juling matanya.” Jabir berkata, “Maka turunlah ayat, ‘Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tamammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.…” (QS. Al-Baqarah, 2: 223). [HR. Muslim, No. 3521, 3522][1]

Semua asbabul nuzul ayat di atas benar, karena derajat haditsnya tidak ada yang dhaif. Bisa jadi semua kejadian di atas terjadi dalam satu waktu atau secara beruntun maka turunlah ayat tersebut.

Iman An-Nawawi mengatakan, di dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya menggauli istri pada kemaluannya, jika mau boleh dari arah depan, belakang, atau dengan posisi menungging. Sedangkan dubur bukanlah ladang dan bukan pula tempat bercocok tanam.[2]

Para ulama yang dijadikan rujukan berpendapat bahwa haram hukumnya menggauli isteri pada duburnya baik dalam kondisi haid maupun suci, berdasrkan hadis-hadis yang mahsyur. Misalnya hadis, “Terlaknat orang yang mendatangi isteri pada duburnya.”[3]

Firman dan hadis ini sekaligus memberitahukan bahwa boleh menggauli istri dari arah samping, kiri atau kanan, atau menungging. Karena ada hadits yang memberitahukan tentang perkara ini, yakni Hadis Muslim Nomor 3526, disebutkan; ….. Di dalam Hadis An-Nu’man dari Az-Zuhri terdapat tambahan, “Jika dia mau, istrinya boleh dengan posisi menungging dan jika mau boleh juga dengan tidak menungging. Hanya saja hal demikian itu dilakukan pada satu lubang.”

Satu lubang yang dimaksudkan adalah lubang kemaluan. Bukan lubang dubur.

Inilah Islam dengan segala kemuliannya, mengatur secara sempurna urusan manusia, mulai dari adab membuang air liur, hubungan intim, sampai dalam perkara-perkara yang besar. Dan ini adalah kabar gembira bagi orang-orang mukmin. (*)

————–

[1] Penomoran hadis dari Kitab Syarah Sahih Muslim, Imam An-Nawawi, terbitan Darush Sunnah, Indonesia.

[2] Kitab Syarah Sahih Muslim, oleh Imam An-Nawawi, Jilid 7, Kitab Nikah, hal. 102.

[3] Kitab Syarah Sahih Muslim, oleh Imam An-Nawawi, Jilid 7, Kitab Nikah, hal. 102.

Click to comment
To Top