Apakah Ada Rasa Dendam di Surga? – Catatan Pemred
Tafsir

Apakah Ada Rasa Dendam di Surga?

SEGALA puji hanya kepada Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad tercinta, juga kepada keluarganya. Dan kepada para sahabat, semoga Allah Ta’ala meridahi mereka. juga kepada orang-orang Islam yang datang setelah mereka. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Rabb semesta alam. Yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam Surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air mata air (yang mengalir). Dikatakan kepada mereka: “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya. Kabarkan kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih. (QS. Al-Hijr, 15: 45-50).

Ayat ini sungguh jelas, tanpa memerlukan penafsiran yang panjang lagi rumit. Bahwa tidak ada dendam di surga. Karena surga itu penuh dengan kenikmatan. Kenikmatan yang tiada tara. Kenikmatan yang tidak sama dengan kenikmatan dunia yang fana. Maka sekiranya ada dendam di dalam hati manusia, berarti ada kenikmatan yang terusik di surga. Sedangkan sifat-sifat surga adalah kenikmatan sepanjang masa. Sehingga tidak layak penghuninya memiliki rasa dendam sebagaimana di dunia. Maka itulah Allah Ta’ala melenyapkan rasa dendam di surga. Sehingga manusia tidak ada punya rasa dendam sedikit pun antara satu dengan yang lainnya saat menjalani kehidupan di surga.

Adapun kehidupan dunia, apabila seseorang menghilangkan rasa dendam di dalam hatinya, maka ia akan merasakan kenikmatan luar biasa. Karena ia tidak sibuk memikirkan orang yang membuatnya merasa dendam. Sifat ini sungguh buruk. Maka apakah pantas sifat ini berada dalam jiwa yang semestinya kita sucikan? Sesungguhnya syaitan bersemayam di balik sifat ini. Ketahuilah dendam adalah salah stu sifat iblis. Lihatlah bagaimana ia iri kepada Nabi Adam as, kemudian ia dendam kepadanya, dan kepada keturunannya. Ia kemudian membisikan kebathilan ke dalam dada manusia, dan menjadikan kejahatan dan kemaksiatan terasa indah di hati manusia. Maka jauhilah sifat ini. Jika bercokol di dalam hati sifat dendam salah seorang, maka ia akan merasakan penderitaan luar biasa, sampai dendamnya terbalaskan. Sedangkan apabila dendamnya terbalaskan, maka ia tidak bisa keluar dari rasa penyesalan, ketika semua situasi menjadi dingin.

Dan tidak ada yang baik dari pembalasan dendam itu, kecuali ia menginginkan keburukan kepada orang yang ia dendam. Maka apakah pantas kita menginginkan keburukan kepada orang lain. Kezaliman, dibalas dengan kebaikan, adalah lebih utama. Dan sifat-sifat yang baik ini hanya dikaruniakan kepada orang-orang yang bersabar lagi menegakkan shalat. Mereka adalah orang-orang yang mendapat keberuntungan yang besar di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman: “Mereka tidak merasa lelah di dalamnya.” Ibnu Katsir berkata, maksudnya, mereka tidak merasakan gangguan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah swt memerintahkan kepadaku untuk memberikan kabar gembira kepada Khadijah dengan sebuah istana di dalam Surga yang terbuat dari emas bertahtakan permata, tanpa kebisingan dan kepayahan di dalamnya.” (HR. Bukhari, No 6535. HR Muslim No. 2432).[1]

Demikianlah penjelasan singkat ayat ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran, dan berlomba-lomba untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Sungguh kenikmatan surga itu tiada tara, dan adzab Neraka itu seburuk-buruk tempat kembali—aku dan keluarga berlindung kepada Allah Ta’ala darinya—Sekian, dan segala puji hanya kepada Allah.

—-

[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peniliti Syaikh Al-Mubarakfuri), (QS. Al-Hijr, 15: 45-50). Jilid 5. Hal. 112.

Click to comment
To Top